Sumber gambar : http://www.elfagr.com/upload/photo/news/164/1/600x338o/221.jpg

 

Meneguhkan Teologi Kepatuhan dalam Membangun Keluarga Tangguh & Berkualitas Bagian 1

Oleh: Hendar Riyadi

 

Jika Allah SWT adalah Tuhan dunia, Tuhan semesta alam (al-hamdu lillâhi rabb al-‘âlamîn) (QS. al-Fatihah/1: 2) dan Nabi merupakan utusan untuk dunia (wa mâ arsalnâka illâ rahmatan li al-‘âlamîn) (QS. al-Anbiya’/21: 107), serta Al-Quran menjadi pengingat kepada dunia (In huwa illâ dzikru li-‘âlamîn) (QS. al-Takwir/81: 27; al-Qalam/68: 52), maka sepatutnyalah seisi dunia ini, termasuk alam dan kita sebagai manusia untuk tunduk pasrah dan patuh kepada-Nya dengan menjalankan standar-standar moral yang telah ditetapkan-Nya (qul inna shalâtî wa nusûkî wa mahyâya wa mamâtî lillâhi rabb al-‘âlamîn) (QS. al-An’am/6: 162). Mulai dari standar moral dalam bertutur kata yang baik (wa qûlû li al-nâsi husna) (QS. al-Baqarah/2: 83); menahan amarah (wa al-kâdzimîn al-ghaid) (QS. Ali Imran/3: 134); rendah hati (yamsyûna ‘ala al-ardhi hauna) (QS. al-Furqan/25: 63); menunaikan janji (wa al-mûfûna bi ‘ahdihim) (QS. al-Baqarah/2: 177); tidak saling mencela (lâ yaskhar qaumun ‘an qaumin) (QS. al-Hujurat/49: 11); belas kasih dan tidak angkuh (wa lâ tusha’ir khaddaka li al-nâsi wa lâ tamsyi fi al-ardhi maraha) (QS. Lukman/31: 18); tidak terlibat suap (wa lâ tudlû ilâ al-hukkâmi li ta’kulû farîqan min amwâl al-nâs) (QS. al-Baqarah/2: 188); hingga berlaku adil (i’dilû huwa aqrabu li al-taqwa (QS. al-Maidah/5: 8); dan seluruh standar moral lainnya.

Menjalankan standar-standar moral tersebut merupakan bentuk ketundukan dan kepa-tuhan kepada Allah SWT.

Begitu juga dengan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih yang kita kumandangkan sejak malam tadi. Takbir, tahlil, tahmid dan tasbih itu, sesungguhnya bukan sekedar untuk menunjukan telah selesainya rangkaian kegiatan ibadah shaum di bulan Ramadhan. Tetapi, merupakan bentuk ketaatan, kepatuhan dan ketundukan total kita kepada Allah SWT.

“TAKBIR, TAHLIL, TAHMID DAN TASBIH SESUNGGUHNYA MERUPAKAN BENTUK KETAATAN, KEPATUHAN DAN KETUNDUKAN TOTAL KITA KEPADA ALLAH SWT.”

Takbir, yakni pengagungan kepada Allah SWT. (الله أكب ) merupakan pengakuan eksistensial Tuhan sebagai Dzat yang memiliki keagungan mutlak—bukan sebagai anggapan yang disalahpahami oleh sebagian kalangan (terutama Barat) sebagai ekspresi protes-protes Islam, serta sebagai seruan perang dalam ekstremisme Islam dan terorisme Islam.

 

[عَالُِِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَ عَالِ ﴾ [الرعد: 9 ﴿

“Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak, yang Maha Besar lagi Maha Tinggi” (QS. al-Ra’d/13: 9).

 

Takbir atau pengagungan mutlak Allah ini, menegaskan bahwa selain Allah, termasuk kita adalah inferior, kecil dan lemah (لا حول ولا قوة إلا بِلله ). Karena itu, tidak patut bagi kita bersikap angkuh, jumawa, menyombongkan diri dan merendahkan yang lain, serta tidak patut untuk melekatkan hati dan menggantungkan diri pada sesuatu yang kecil dan lemah. Menggantungkan diri kepada selain Allah, tidak akan memiliki kekuatan sandaran yang kokoh. Ibarat bangunan rumah lebah yang rapuh dan mudah hancur.

 

مَثَلُ الَّذِينَ اتَََّّذُوا مِنْ دُونِ اللََِّّ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَََّّذَتْ ب يَْ تًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُ يُوتِ لَبَ يتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا ي عَْلَمُونَ
[الأنكبوت: 41]

“Perumpaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui” (QS. al-Ankabut/29: 41).

 

Dalam manifestasinya, takbir seharusnya membentuk watak kita menjadi tawadhu, rendah hati serta memandang sesama sebagai setara dihadapan Allah SWT. Tahlil, yakni pengakuan keesaan Allah ( لاإله إلا الله ) merupakan deklarasi keimanan untuk memurnikan ketaatan dan kepatuhan hanya kepada Allah SWT.

 

[فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّلَّ … ﴾ [مُمد: 19 ﴿

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia, tiada tuhan selain Allah…” (QS. Muhammad: 19).

 

شَهِدَ الَّلَُّ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِِلْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الحَْكِيمُ
[أل عمران: 19]

“Allah menyatakan bahwa tiada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS. Ali Imran/3: 18).

 

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan bahwa pernyataan lâ ilâha illa Allâh mengandung dua unsur utama, yaitu nâfi (peniadaan, negasi) dan itsbat (penetapan, konfirmasi). Unsur nâfi terdapat dalam pernyataan lâ ilâha (tiada tuhan). Lâ berarti peniadaan (nafyi) segala jenis tuhan—selain Allah. Sedangkan unsur itsbat terdapat dalam pernyataan illa Allâh (kecuali Allah). Illa berfungsi sebagai penetapan (itsbat), yaitu menetapkan khabar setelah illa (Allah). Artinya, yang tetap ada itu hanya satu, yakni Allah. Jadi, ungkapan tahlil lâ ilâha illa Allâh, mengandung makna mentiadakan atau menegasikan yang sejenisnya dari pelbagai “ilah” (tuhan-tuhan) dan hanya menetapkan atau mengkonfirmasi satu yang diitsbatkan, yaitu Allah. Dengan demikian, ungkapan tahlil merupakan pemurnian ketaatan dan kepatuhan hanya kepada Allah, sehinga seluruh nafas, jiwa, pikiran dan hati harus tunduk, pasrah dan patuh hanya kepada Allah SWT. Tidak boleh menjadikan hawa nafsu, harta benda dan apapun sebagai ilah selain Allah.

Sementara tahmid, yakni ungkapan pujian kepada Allah (ولله الحمد ) merupakan pengakuan iman bahwa keseluruhan pujian dan sanjungan yang agung itu hanya milik Allah saja.

 

الحَْمْدُ لَِّلَِّ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الحَْمْدُ فِي الْْخِرَةِ وَهُوَ الحَْكِيمُ الَْْبِير
[ سبأ: 1]

“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan segala puji bagi Allah di akhirat. Dia-lah yang Maha Bijaksana, Maha Teliti” (QS. Saba`: 1).

 

[يََأَي هَُّا النَّاسُ أَنْ تُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى الَّلَِّ وَالَّلَُّ هُوَ الْغَنُِِّ الحَْمِيدُ  [الفاطر: 15

“Hai manusia, kamulah yang butuh (tergantung) kepada Alah dan Dia-lah Yang MahaKaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS. al-Fathir: 15).

 

Imam al-Syaukani mengemukakan bahwa Allah berhak mendapat pujian dari semua makhluk-Nya karena limpahan nikmat-Nya yang besar, tiada terkira kadarnya dan tidak terhitung jumlahnya. Ungkapan tahmid atau pujian kepada Allah ini memberikan kesadaran bahwa kita tidak akan dapat hidup tanpa limpahan nikmat dan karunia-Nya. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa tidak patut bagi kita mengharap banyak pujian atau tepuk tangan. Karena yang berhak mendapat pujian itu hanya Allah. Jika pujian orang itu karena harta atau jabatan yang kita miliki, maka ingatlah bahwa kepemilikan harta, properti, jabatan serta aset-aset lainnya yang dimiliki manusia (kita) bukan merupakan hak istimewa atau kepemilikan mutlak. Sehingga tidak sepatutnya dibangga-banggakan dan mengharap-harap pujian. Apalagi bila digunakan secara sewenang-wenang, telenges, deleka dan merendahkan yang lain.

Adapun tasbih, yakni pensucian Allah dari segala syarikat yang dituhankan (baik berupa al-ilâhah, al-thagût, al-andad, al-arbab, dll.) merupakan inti dari semua pengagungan, pujian serta penafian dan pengitsbatan di atas.

Bersambung Kebagian 2 >>

1 Comment

Avatar

  • Avatar

    tulisan yg mengugah

    siti Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *