Meneguhkan Teologi Kepatuhan dalam Membangun Keluarga Tangguh & Berkualitas Bagian 2

Oleh: Hendar Riyadi

<< Lihat bagian 2

Shaum yang kita jalankan sebulan penuh di bulan Ramadhan merupakan salah satu ajaran dalam Islam yang sarat dengan pelajaran kepatuhan tersebut. Inti dari ajaran shaum itu sendiri adalah pendidikan kepatuhan untuk mencapai standar moral yang tinggi (ketaqwaan). Shaum mengajarkan kaum muslimin dan manusia pada umumnya untuk patuh dan tunduk pada Allah SWT. Shaum memerintahkan kita untuk bersabar, banyak berderma dan berkorban untuk orang lain, terutama mereka yang membutuhkan. Shaum melarang kita untuk berbohong, berkata-kata yang tidak baik, seperti kata-kata mencela, kata-kata membenci, serta melarang seluruh prilaku yang merusak dan dapat membahaya-kan orang lain. Shaum juga menganjurkan untuk banyak berzikir, beristigfar, shalat malam, tadarus Al-Quran dan bentuk-bentuk ibadah lainnya. Semua itu harus dijalankan dengan penuh kepatuhan dan ketulusan.

SHAUM ADALAH SALAH SATU AJARAN DALAM ISLAM YANG SARAT DENGAN PELAJARAN KEPATUHAN. INTI DARI AJARAN SHAUM ITU SENDIRI ADALAH PENDIDIKAN KEPATUHAN UNTUK MENCAPAI STANDAR MORAL YANG TINGGI.

Melalui kepatuhan terhadap ajaran-ajaran (perintah, larangan dan anjuran) dalam shaum di atas, sangat dimungkinkan dapat meraih ridha dan cinta Allah SWT., serta sangat dimungkinkan dapat membangun relasi yang positif dan harmonis, baik dalam keluarga maupun dalam relasi sosial-kemasyarakatan yang luas, termasuk relasi kebangsaan. Itulah teologi kepatuhan yang menjadi keberagamaan fundamental dalam Islam. Tanpa kepatuhan, maka bentuk keberagamaan apa pun tidak akan diterima. Jika ajaran-ajaran (teologi kepatuhan) dalam shaum itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka kehidupan yang berkualitas (hayâtan thayyiba) itu akan terwujud.

JIKA AJARAN-AJARAN (TEOLOGI KEPATUHAN) DALAM SHAUM ITU DIJALANKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH, MAKA KEHIDUPAN YANG BERKUALITAS (HAYÂTAN THAYYIBA) ITU AKAN TERWUJUD.

Teologi kepatuhan ini sangat penting terutama dalam mengahadapi era zaman now yang oleh para ahli disebut dengan era disruption. Menurut Francis Fukuyama kita tengah menghadapi the great desruption (kekacauan besar). Ciri utama dari great desruption ini adalah lahirnya budaya individualisme yang intensif dan melemahnya social capital. Berawal dari pasar dan laboratorium yang mengarah kepada inovasi dan pertumbuhan, kemudian memasuki wilayah (mengganggu) norma sosial, merusak seluruh bentuk otoritas dan ikatan-ikatan kebersamaan yang menghubungkan keluarga, lingkungan dan negara. Ringkasnya, pada era desrution ini nilai-nilai atau norma-norma sosial informal (seperti kepercayaan dan kesediaan untuk saling menolong) yang dimiliki bersama dan memungkinkan terjalinnya kerjasama mengalami kemerosotan. Akhirnya, memperlemah—untuk tidak menyebut menghilangkan—ikatan sosial, hubungan harmonis dalam keluarga, masyarakat dan dalam relasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantangan era disruption di atas, semakin krusial dengan hadirnya revolusi industri 4.0 (the fourth industrial revolution). Revolusi industri 4.0 ini ditandai dengan munculnya super komputer, kecerdasan buatan (artificial intellegence), robot pintar, komputasi dan big data, nanoteknologi, bioteknologi, neuroteknologi, dll. Menurut penggagasnya, Prof. Klaus Schwab, perkembangan revolusi industri 4.0 ini, secara fundamental dapat mengubah cara kita hidup, cara kita bekerja, dan cara kita berhubungan satu dengan yang lain. Kehadiran revolusi industri 4.0 ini sangat berpotensi mengganti energi hidup dan pikiran manusia dengan mesin. Hal ini tentu akan melahirkan problem kemanusiaan sendiri, termasuk menjadi problem bagaimana mendefinisikan untuk menjadi manusia dalam konteks relasinya dengan mesin-mesin tersebut. Budaya individualisme yang menjadi kecenderungan era disruption akan semakin terfasilitasi dengan kehadiran mesin-mesin dan robot pintar tersebut. Akhirnya juga, akan semakin memperlemah (mengganggu) norma-norma sosial, ikatan-ikatan kebersamaan yang menghubungkan keluarga, lingkungan dan negara.

Dalam era disruption, keluarga yang seharusnya—sebagaimana dikatakan Prof. Kurshid Ahmad—memiliki peran penting, an-tara lain dalam melindungi moral (protection of moral), stabilisasi emosional psi-kologis, cinta dan kebaikan (psicho-emotional stability, love and kindness), menghasilkan kohesi sosial dalam masyarakat (produc-ing social cohesion in society), serta melindungi keamanan sosial dan eko-nomi (social and economic security), kini mendapat tantangan berat dari era disruption tersebut. Peran keluarga terkadang bergeser, bahkan berbalik arah menjadi ancaman terhadap moralitas serta fungsi stabilitas emosional, cinta dan kebaikan. Praktik mutilasi istri oleh suami atau sebaliknya, pelecehan seksualitas terhadap anak, serta penyalahgunaan obat-obat terlarang telah menjadi fenomena yang mengganggu dan menghancurkan norma-norma keluarga tersebut. Begitu juga dengan peran membangun kohesi sosial dalam masyarakat serta melindungi keamanan sosial dan ekonomi, telah bergeser ke arah pelemahan—untuk tidak menyebut penghancuran—kohesivitas masyarakat serta keamanan sosial dan ekonomi. Fenomena bom bunuh diri yang dilakukan oleh keluarga misalnya, menjadi catatan tersendiri yang mengukuhkan era the great disruption (kekacauan besar) ini. Disamping fenomena penyimpangan lainnya dalam keluarga, seperti kekerasan terhadap asisten rumah tangga, traficking (perdagangan manusia), penelantaraan anak, stunting (kekurangan gizi kronis), dll.

DALAM MENGHADAPI ERA DISRUPTON DAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0, TEOLOGI KEPATUHAN ATAU KETAATAN KEPADA ALLAH SWT. YANG DIAJARKAN ISLAM, KHUSUSNYA DALAM AJARAN SHAUM, MENJADI SOLUSI PENTING DALAM MENYIAPKAN KELUARGA TANGGUH MELALUI PENEGUHAN KEMBALI PERAN KELUARGA DAN PENGUATAN SOCIAL CAPITAL DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA.

Semua itu, jelas mengganggu relasi sosial yang positif-harmonis, baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam kehidupan sosial-masyarakat dan berbangsa yang lebih luas. Terlebih dalam memasuki tahun politik yang belakangan banyak melahirkan kegaduhan-kegaduhan yang kurang produktif. Dalam konteks era disruption dan revolusi industri 4.0 itulah, teologi kepatuhan atau ketaatan kepada Allah SWT. yang diajarkan Islam, khususnya dalam ajaran shaum, dapat menjadi solusi penting dalam menyiapkan keluarga tangguh dan berkualitas, melalui peneguhan kembali peran keluarga dan penguatan social capital dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sedikit menyinggung soal tahun politik yang seringkali melemahkan norma, ikatan sosial dan kebersamaan, bahkan mengarah kepada kekacauan dalam hubungan sosial kita. Teologi kepatuhan ini penting untuk menjadi pertimbangan semua eksponen bangsa dalam penyelenggaraan pesta politik tersebut. Dalam kerang teologi kepatuhan ini, kerja-kerja kebudayaan seperti pembangunan ekonomi dan termasuk berdemokrasi, hanya akan mendatangkan perselisihan dan kesengsaraan bila tidak dibingkai dengan ketaatan atau kepatuhan kepada Allah, melalui standar-standar moral yang telah ditetapkan-Nya. Dengan kata lain, kesejahteraan dan kehidupan yang berkualitas, termasuk dalam berdemokrasi hanya dapat di[eroleh melalui pelaksanaan kepatuhan pada standar-standar moral tersebut.

Memang ketaatan dan kepatuhan kepada selain Allah, juga akan mendatangkan cinta, kesukaan dan kasih sayang di antara anak bangsa. Tetapi, kecintaan itu, hanya bersifat duniawi saja. Sementara di balik itu semua, mereka akan saling mengingkari dan saling melontarkan cacian, celaan, serta saling menjatuhkan antara satu dengan lainnya.

“Sesungguhnya, berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, hanya untuk menciptakan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan di dunia, kemudian pada Hari Kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagimu” (QS. al-Ankabut/29: 25)

Bila bulan Ramadhan merupakan bulan keluarga (syahr al-‘asyîrat), maka tidak berlebihan—dan malah akan menjadi kemaslahatan publik yang besar—bila kaum muslimin memperingati dan menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan untuk peneguhan keluarga tangguh dan berkualitas. Selama Ramadhan, seluruh keluarga Muslim secara sungguh-sungguh memasuki madrasah kesabaran, mengendalikan hasrat dan syahwat yang destruktif, belajar berderma, empati dan berkorban untuk orang lain, belajar untuk tidak mencaci, membenci dan berkata mencela, serta menjadikan Ramadhan sebagai madrasah peneguhan spiritualitas melalui pembiasaan berzikir, shalat malam, tadarus Al-Quran dan amalan spiritualitas lainnya. Kesungguhan dalam menjalankan madrasah Ramadhan ini akan sangat dimungkinkan terjadinya transformasi dalam keluarga, menjadi keluarga yang berperan sebagai pelindung moral, stabilisator emosional psikologis, cinta dan kebaikan, penguat kohesi sosial dalam masyarakat serta sebagai pelindung keamanan sosial dan ekonomi. Dengan demikian, melalui madrasah Ramadhan ini diharapkan dapat terbangun hubungan (relasi) yang positif dan harmonis sehingga tebangun keluarga tangguh dan berkualitas yang akan menopang kehidupan masyarakat dan negara yang bersih (thayyibah), berkemajuan, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat serta mendapat ridha, cinta, keberkahan dan ampunan Allah SWT.

Tentu semua itu, dimulai dari pembentukan kualitas individunya dengan membersihkan pikiran, hati, jiwa, lisan, panca indera, sistem syaraf, tulang, daging dan seluruh anggota tubuh yang lainnya. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa itu semua hanya dapat diwujudkan dengan izin Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita berdo’a, menundukan kepala, semoga kita menjadi individu-individu yang memiliki kebersihan pikiran, hati, jiwa, seluruh panca indera dan anggota tubuh kita, sehingga kita menjadi keluarga yang tangguh dan berkualitas, serta menjadi bangsa yang bersih (thayyibah), berkemajuan, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat dengan ridha, cinta, keberkahan dan ampunan dari Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

 

Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *