Meneguhkan Teologi Kepatuhan dalam Membangun Keluarga Tangguh & Berkualitas Bagian 2

Oleh: Hendar Riyadi

<<Lihat Bagian 1

Tasbih, yakni pensucian Allah dari segala syarikat yang dituhankan (baik berupa al-ilâhah, al-thagût, al-andad, al-arbab, dll.) merupakan inti dari semua pengagungan, pujian serta penafian dan pengitsbatan. Dengan demikian, sekali lagi, kumandang Takbir, tahlil, tahmid dan tasbih yang bergema sepanjang malam tadi hingga saat ini, bukan untuk menunjukan telah selesainya rangkaian kegiatan di bulan Ramadhan, melainkan harus menjadi bentuk kesadaran untuk kepatuhan, ketaatan dan ketundukan total kepada Allah SWT. Karena itu, bila ada seseorang yang melafalkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih, tetapi tidak menunjukan ketawadhuan, kerendahan hati, masih mengharap pujian dan ketergantungan pada yang bersifat material, apalagi bersikap sewenang-wenang, telenges, deleka dan merendahkan yang lain, maka ia sesungguhnya telah membohongkan pernyataan takbir, tahlil, tahmid dan tasbihnya. Allah Maha Besar itu tidak cukup di lisan saja. Tetapi, harus ada dan tertanam di dalam hati, ada di dalam rumah, di masjid, di masyarakat, di kebun, di sawah, di kantor, di pabrik, di sekolah, di organisasi, di partai, di pemerintahan dan di seluruh lini kehidupan. Begitu juga dengan kesaksian tidak akan menjadikan ilah-ilah selain Allah (tahlil), kesaksian bahwa segala pujian milik Allah (tahmid) dan Kemahasucian Allah (tasbih). Semuanya harus menjadi warna atau shibghah bagi semesta kehidupannya.

اللهُ أَكبَ رُ اللهُ أَكبَ رُ، لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكبَ رُ، اللهُ أَكبَ رُ وَللهِ الحَمدُ .

Kenapa kepatuhan, ketaatan dan ketundukan kepada (aturan) Allah SWT. ini penting? Pertanyaan ini sesungguhnya sama halnya dengan pertanyaan kenapa menjalankan agama itu penting. Agama dalam pengertian aturan-aturan, baik dalam bentuk perintah (awâmir), larangan (nawâhy) maupun dalam bentuk anjuran-anjuran (irsyâdât) lainnya. Islam itu sendiri adalah agama kepatuhan. Kata Islam berasal dari akar kata aslama-yuslimu-islâman yang berarti kepasrahan, ketundukan dan kepatuhan. Shaum misalnya merupakan ajaran ritual Islam yang sarat dengan ajaran kepatuhan, seperti larangan atau menghindari makan, minum dan berhubungan badan, serta perintah untuk melaksanakan berbagai amal kebajikan, seperti shalat qiyamu lail, infak, tadarus Al-Quran dan aktivitas-aktivitas kebajikan lainnya. Jadi, apa pentingnya semua itu ditaati dan dipatuhi?

Jawaban singkatnya adalah tentu untuk menjadi kebaikan bagi orang yang menjalankannya. Seperti melaksanakan aturan atau resep dokter, baik yang berupa perintah, larangan maupun anjuran-anjurannya. Misalnya, kalau obat itu harus dimakan 2 x sehari sesudah makan, maka itu harus dilaksanakan. Tidak boleh asal makan obat. Melaksanakan semua aturan tersebut, jelas untuk kebaikan orang itu agar dapat merawat kesehatannya. Begitu juga dengan penggunaan barang-barang seperti mesin dan mekanik lainnya, harus mengikuti atau mematuhi panduan (aturan) yang dibuat oleh perusahaan atau penemu mekanik tersebut. Hal serupa dalam arsitektur bangunan. Orang yang membangun rumah atau gedung harus mengikuti atau mematuhi rancangan dan panduan yang dibuat arsiteknya. Misalnya, bila besi yang digunakan itu harus ukuran besi 18 mm, maka tidak boleh menggunakan besi yang ukuran 10 mm. Sebab akan membahayakan pengguna atau penghuninya.

Demikian juga dengan kepatuhan kepada aturan Allah SWT. Kepatuhan dan ketundukan kepada Allah ini penting agar menjadi kebaikan bagi manusia itu sendiri. Prof. Wahbah Zuhaili, ulama ahli hukum Islam asal Syiria dan penulis tafsir al-Munîr, al-Wasîth dan al-Wajîz, mengemuka-kan bahwa kepatuhan (al-thâ’at) merupakan asas atau fundamen untuk meraih keridhaan Allah dan asas untuk seluruh hubungan (relasi) yang baik, seperti hubungan dalam keluarga (orangtua-anak, suami-istri, pembantu-majikan) dan hubungan sosial-kemasyarakatan. Kepatuhan menjadi asas penting dalam relasi keluarga dan sosial karena kepatuhan kepada Allah akan melahirkan keridhaan Allah. Keridhaan Allah akan melahirkan cinta atau kesukaan Allah. Cinta atau kesukaan Allah akan melahirkan cinta dan kesukaan di antara manusia. Kecintaan dan kesukaan inilah yang menjadi asas dan melahirkan hubungan

“KEPATUHAN DAN KETUNDUKAN KEPADA ALLAH INI PENTING AGAR MENJADI KEBAIKAN BAGI MANUSIA ITU SENDIRI.”

yang positif. Hubungan yang positif melahirkan ikatan sosial yang kuat dan harmonis. Melalui ikatan sosial yang kuat dan harmonis itulah maka akan terbangun kehidupan yang berkualitas (hayâtan thayyiba). Selanjutnya, kehidupan yang berkualitas ini melahirkan keridhaan dan kecintaan Allah. Siklus kepatuhan sebagai asas keridhaan dan segala hubungan yang positif tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Siklus kepatuhan ini didasarkan pada keterangan Al-Quran surat Maryam/19: 96 dan surat al-Nahl/16: 97, serta beberapa riwayat hadits Rasulullah Saw. Dalam surat Maryam ayat 96 disebutkan bahwa orang yang beriman dan beramal shaleh akan Allah jadikan (tanamkan) untuknya cinta, belas kasih dan kasih sayang.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, Allah akan jadikan bagi mereka cinta dan kasih sayang” (QS. Maryam/19: 98).

Iman dan amal shaleh merupakan bentuk kepatuhan holistik kepada Allah. Menurut QS. Maryam/19: 96, kepatuhan (dalam bentuk iman dan amal shaleh) akan melahirkan cinta, belas kasih dan kasih sayang (wudda). Para Mufasir seperti al-Thabari, Ibnu Katsir dan Wahbah Zuhaili, menafsirkan kata wudda itu dengan mahabbah, yakni cinta atau kesukaan. Ini merupakan karunia Allah yang ditanamkan ke dalam jiwa dan hati seseorang yang patuh kepada-Nya. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari Abu Huraerah disebutkan bahwa orang yang disukai Allah, ia akan dicintai penduduk langit dan penduduk bumi.

“Apabila Allah menyukai seorang hamba, Allah memanggil malaikat Jibril (dan berfirman): Aku sungguh mencintai orang itu maka cintailah dia. Kemudian Allah menyerukan kepada penghuni langit (seruan yang sama). Lalu, Allah turunkan baginya kecintaan pada penduduk bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, Allah menyerukan kepada penghuni langit. Lalu, Allah turunkan baginya kebencian pada penduduk bumi”.

Sedang dalam surat al-Nahl ayat 97 disebutkan bahwa orang yang beramal shaleh, baik dari laki-laki maupun perempuan dan beriman, akan Allah berikan kepada mereka kehidupan yang berkualitas.

“Barangsiapa yang beramal shaleh dari laki-laki atau perempuan dan dia beriman, maka akan Kami beri kehidupan yang berkualitas dan Kami akan berikan balasan pahala mereka dengan sebaik-baik apa yang mereka perbuat” (QS. al-Nahl/16: 97).

Menurut Prof. Wahbah Zuhaili, yang dimaksud dengan hayâtan thayyiba adalah seluruh bentuk kenyamanan, mencakup rezeki yang halal dan suci, kebahagiaan, ketenangan jiwa, serta keridhaan dan qanaah.

Dengan demikian, merujuk pada keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa kepatuhan kepada Allah sangat penting bagi kebaikan manusia itu sendiri, yakni menjadi asas dalam membangun relasi (hubungan) yang positif, baik dalam keluarga, masyarakat maupun hubungannya dengan alam. Melalui kepatuhan ini sangat dimungkinkan dapat meraih keridhaan dan cinta Allah serta terbangunnya kehidupan yang berkualitas.

Bersambung ke bagian 3 >>

Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *