OLEH Hj. MUKHLISHAH, M.Ag

Dosen Pedidikan Agama Islam STAIM Bandung

HAKIKAT PEMBELAJARAN

Rancangan Undang-Undang Pemilu Kepala Daerah yang disahkan DPRRI tahun  2014 merupakan inisiatif dari dan diajukan pemerintah Indonesia kepada DPR-RI sebagai hasil dari pembelajaran mahal yang diperoleh melalui telaah panjang praktek pemilihan kepala daerah secara langsung di Indonesia. Inisiatif tersebut muncul setelah mempelajari pelaksanaan demokrasi berupa pemilihan langsung gubernur, bupati dan walikota yang terbukti sangat mahal tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Pemilihan langsung tersebut bahkan ditengarai telah menumbuh suburkan budaya korupsi. Dari pembelajaran mahal inilah maka pemerintah Indonesia mengajukan Rancangan dan kemudian mengesahkan Undang-Undang Pemilihan Umum Kepala Daerah (RUU Pemilukada). Dalam RUU tersebut diatur bahwa gubernur, walikota, dan bupati dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Tsunami di wilayah pesisir kota Banda Aceh, Calang , dan Meulaboh , adalah yang paling parah pada 26 Desember 2004. Sementara perkiraan bervariasi , lebih dari 170.000 orang meninggal oleh tsunami di Aceh tersebut dan sekitar 500.000 orang kehilangan tempat tinggal. Populasi Aceh sebelum tsunami 26 Desember 2004 adalah 4.271.000 ( 2004) . Populasi per 15 September 2005 adalah 4.031.589. Pada Februari 2006 , lebih dari setahun setelah tsunami , sejumlah besar orang masih tinggal di barak tempat tinggal sementara.

Dampak langsung dari tsunami terhadap kehidupan dan prasarana di Aceh di antaranya adalah pemberontak gerakan GAM yang telah berjuang untuk kemerdekaan melawan penguasa Indonesia selama 29 tahun, akhirnya menandatangani perjanjian damai (15 Agustus, 2005). Persepsi bahwa tsunami adalah hukuman karena kekurangsalehan masyarakat Muslim di provinsi ini telah mendorong dan memotivasi masyarakat menginsyafi  pentingnya ketaatan beragama. Keinsyafan yang paling jelas tampak mengemuka dalam peningkatan pelaksanaan hukum Syariah, termasuk pengenalan polisi Syariah. Sebuah pembelajaran yang luar biasa, bertolak dari kejadian nyata dan menariknya ke dalam relung-relung ajaran Islam, dan ditemukanlah keinsyafan pentingnya akhlaq mulia sebagai tameng dari kemungkinan datangnya hukuman Allah SWT kepada masyarakat yang mengaku beriman.

Seorang  mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung manyatakan bahwa dirinya benar-benar memperoleh pembelajaran berharga dari pengalaman pahitnya. Dendi, demikian nama sahabat sekelas anak kami itu, adalah seorang pemuda yang secara akademik tergolong cerdas di kalangan teman seusianya. Empat tahun sebelum kuliah di Unpad dia sudah menjalani kuliah di Universitas Indonesia, namun berakhir dengan berhenti atas kehendaknya sendiri setelah tidak mencapai target penyelesaian matakuliah yang telah diikutinya. Ternyata, pasal penyebabnya adalah karena kegiatan bisnis yang berlebihan disamping kesibukan mengurus keluarga bersama seorang dokter gigi yang dinikahinya dan telah memperoleh karunia seorang anak. Kegagalannya di Universitas Indonesia yang telah membawanya hijrah ke Universitas Padjadjaran itu pun belum menjadikannya tersadar tentang pentingnya bekerja dengan fokus. Empat tahun setelah menjalani kehidupan kemahasiswaannya di Universitas Padjadjaran pun akhirnya harus berakhir dengan kegagalan kedua. Kegagalan kedua ini namun demikian membawa hikmah datangnya kesadaran penuh bahwa bekerja dengan fokus yang benar adalah mutlak diperlukan bagi sesiapapun yang menghendaki memperoleh kesuksesan.

Pepatah bijaksana menyatakan bahwa menyesal tak pernah datang di awal. Penyesalan yang arif namun demikian tidak jarang berbuah kesadaran yang menghasilkan pembelajaran yang sangat berharga. Kita misalnya memperoleh hikmah pembelajaran dari melihat potret kota Nagasaki 1945 sebelum dan sesudah di jatuhkan bom atom oleh tentara sekutu. Stiuasi akibat dari puncak kemelut Perang Dunia II yang tampak dari dalam kedua foto itu menggambarkan betapa perang selalu berakibat kepedihan mendalam. Gambaran tersebut namun demikian kemudian menjadi  sumber inspirasi dan pembelajaran bagi kita umumnya, dan tentu saja bagi rakyat dan bangsa Jepang khususnya. Kita telah memanfaatkan peristiwa tersebut sebagai sumber pembelajaran sehingga Bangsa Indonesia memilih posisi politik kebangsaan bebas dan aktif dan anti perang. Hal yang lebih tegas lagi dipilih sebagai sikap kebangsaan Bangsa Jepang yang mengubah kebijakan pertahanannya selepas Perang Dunia II berbalik menjadi bangsa yang mempersiapkan tentara nasionalnya hanya untuk membela diri. Sikap kebangsaan kita Bangsa Indonesia dan Jepang sangat masuk akal, sebab kita misalnya sering mendengar kata pepatah orang bijak bahwa sebodoh-bodoh keledai tak akan mau terperosok kedua kalinya di lubang yang sama. Pepatah ini mengingatkan kita kepada pandangan teoretik yang menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang mempunyai kemampuan memilah dan memilih atau mengklasifikasikan (classifying animal). Memilih pengalaman yang baik untuk dilanjutkan dan pada saat bersamaan meninggalkan pengalaman buruk adalah sebuah pembelajaran.

Pembelajaran juga terjadi dengan cara memperhatikan perilaku hewan. Pembelajaran ini bahkan telah menghasilkan revolusi ilmu pengetahuan yang menolak dan membatalkan teori evolusi Charles Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah spesies yang berasal dari monyet yang berevolusi. Banyak hewan terlibat dalam perilaku berpelukan dengan lawan jenis. Pembelajaran tersebut misalnya dengan memperhatikan perilaku hewan yang suka memeluk lawan-jenis, sehingga memunculkan pemikiran bahwa kesamaan perilaku hewan tersebut dengan perilaku manusia menunjukkan bahwa manusia juga adalah hewan. Pemikiran ini, namun demikain terpatahkan oleh fakta bahwa saling berpelukan antara manusia lawan jenis ternyata  tidak selalu mengarah kepada hubungan seksual, tidak pula yang selalu merupakan sebuah kesengajaan. Manusia juga berbeda dengan hewan dalam hal rasa malu. Manusia biasa saja secara tidak sengaja mengekspresikan naluri cintanya  kepada lawan jenisnya sehingga ketika berjumpa langsung saling berpelukan dan bahkan saling mencium. Manusia namun demikian dengan rasa malu yang ada padanya, di Barat maupun di Timur, apalagi di Dunia Muslim, baru akan melanjutkan perilaku mengikuti gairah seksualnya ketika keduanya merasakan berada di tempat yang terlindung dari pandangan orang lain. Perilaku ini adalah bagian dari ekspresi rasa malu yang ada pada setiap manusia dan tidak ada pada hewan.

Dalam pada fakta bahwa manusia dapat mengklasifikasikan sesuatu sebagai patut dan yang lain tidak patut inilah, maka meskipun sebagian ilmuwan menyatakan bahwa manusia adalah hewan, namun manusia merupakan hewan yang mampu mengklasifikasikan kepatutan dari ketidak patutan. Manusia dengan itu memilah dan memilih yang sesuai dengan kesadarannya tentang perlunya memelihara rasa malu. Manusia bahkan dapat memilih dan memilah waktu yang sesuai untuk melakukan hubungan seksual meskipun dengan isteri sendiri. Pasangan suami istri yang baru menikah dan menginginkan segera punya anak  misalnya, memilih mengutamakan musim subur istrinya untuk melakukan hubungan intim. Klasifikasi musim subur dan musim tidak subur ini merupakan kapasitas dan kapabilitas manusia yang sama sekali tidak dimiliki hewan.

Pemahaman atas berbagai fakta perbandingan antara hewan dan manusia ini, mendorong manusia untuk melakukan pembelajaran mengenai klasifikasi hewan dan manusia. Hewan, demikian kesimpulan dari pembelajaran ini, tidak mempunyai kemampuan logis yang memungkinkannya membuat klasifikasi dan tidak mungkin pula berbahasa. Sedangkan manusia yang suka memilah dan memilih akhirnya terlatih berlogos, ketrampilan membuat klasiifikasi kategoris yang kemudian menghgasilkan kemampuan berbahasa sehingga manusia juga disebut “hayawanunnaatiq” (hewan yang berkata-kata, berbahasa).

Belajar dan pembelajaran mengenai respons manusia terhadap suatu kondisi atau terhadap situasi berkondisi sebenarnya sudah banyak dilakukan melalui percobaan di laboratorium. Percobaan laboratorium misalnya dilakukan oleh Ivan Pavlov, seorang fisiolog Rusia. Pavlov mempelajari secara eksperimental:

Pengkondisian gerak reflek kedipan mata pada manusia dan kelinci. Jika orang menatap lampu yang redup dan kemudian lampu tersebut dibuat bertambah lebih terang, orang biasanya tidak mengedipkan mata sebagai respons atas timulus tersebut. Namun jika stimulus angin lembut ditiupkan ke mata mereka , mereka pun mengedip. Prosedur pengkondisiannya dilakukan dengan mengkombinasikan kedua stimulus ini, di mana lampu menyala terang sepersekian detik sebelum muncul tiupan angin. Setiap kali kombinasi ini dijalankan, subjek berkedip untuk merespons tiupan angin. Pada akhirnya subjek pun mulai berkedip ketika nyala lampu berubah, yakni sebelum  muncul tiupan. Perubahan  pada  hyala lampu yang mendapat respons berkedip dan seblumnya tidak dihasilkan oleh perubahan nyala lampu itu telah menunjukkan adanya pembelajaran ( Hill, Winfred F., edisi kelima terjemahan M Khozim, 2010:13-14).

 

Anjing sebagai model subjek fisiologis dalam penelitian Pavlov telah mengalami proses pembelajaran terhadap adanya perubahan nyala lampu. Nyala lampu yang ketika tidak diikuti dengan tiupan angin tidak menimbulkan respons apapun dari si anjing. Sedang anjing yang sudah terbiasa merespons tiupan angin dengan mengedipkan mata, maka ketika tiupan angin itu disatukan dengan tingkat terang nyala lampu, kemudian anjing meresponsnya dengan kedipan yang sama. Dan respons fisiologis datangnya tiupan angin yang bersamaan dengan meningkatnya terang nyala lampu itu, telah menjadikan anjing terbelajarkan terhadap perilaku merespons naiknya tingkat terang nyala lampu dan meresponsnya meski kedatngan kenaikan terang nyala lampu tanpa dibarengi dengan tiupan angin.

Sekali lagi, Pengesahan RUU Pemilukada melalui DPR-RI yang menggantikan pemilihan langsung dan disahkan DPR-RI tahun 2014 merupakan suatu fenomena dari sebuah proses pembelajaran panjang. Pembelajaran tersebut boleh jadi merupakan sebuah pembelajaran historis atau politis, tetapi yang pasti adalah sebuah pembelajaran bernalar komparatif di dalam masyarakat manusia. Bangsa Indonesia menyadari benar bahwa demokrasi Indonesia adalah demokrasi perwakilan yang juga dijuluki Demokrasi Pancasila. Logika dasar sederhananya adalah bahwa wakil rakyat sebagai orang-orang dengan kualifikasi tertentu yang harus memilih pemimpin bangsa Indonesia, dan bukan rakyat yang memilih secara liberal. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa demokrasi perwakilan itu merujuk kepada musyawarah mufakat. Musyawarah mufakat dimaksudkan sebagai sebuah model demokrasi yang karena pemilihan pemimpin dan atau penentuan suatu kebijakan diputuskan berdasarkan “suara terbanyak perwakilan rakyat” melalui musyawarah mufakat, maka hasilnya akan menjadi sebuah keputusan yang lebih bulat dalam arti dapat diterima dan mendapat legitimasi lebih penuh dari rakyat. Penerimaan secara lebih bulat dan perolehan legitimasi lebih bulat tersebut dimungkinkan oleh karena proses musyawarah mufakat memungkinkan adanya tahap kritis, di dalam mana semua pilihan  didasarkan kepada alasan-alasan yang terlebih dahulu dimusyawarahkan keudian disepakati secara mufakat.

Perbedaan antara pemilihan langsung dengan pemilihan melalui DPR dan DPRD akan sangat jelas, yakni pada implikasi puas versus tidak puas dan kurang puas namun dapat menerima secara ikhlash. Pemilihan umum langsung menjamin pemenangnya akan merasakan kepuasan sempurna, tetapi pada saat bersamaan pihak yang kalah akan perasakan ketidak puasan yang sempurna pula. Pemilihan melalui DPR dan DPRD secara perwakilan akan menghasilkan kepuasan sempurna pada pihak pemenang, namun kepuasan.  Pihak yang kalah di pihak lain hanya akan merasa sukarela menerima keputusan musyawarah untuk mufakat, meski dalam ketidaksempurnaan. Pihak yang kalah dalam hal ini tidak akan terjerembab ke dalam kekecewaan namun hanya harus menerima kekalahan dengan ketidakpuasan.

Implikasi politik dari pemilihan melalui perwakilan adalah bahwa meskipun dalam pemilihan umum untuk memilih anggota DPR dan DPRD sebagian pihak mengalami kekalahan sehingga dalam pemilihan pemimpin akan berimplikasi terpilihya pemimpin yang tidak sepenuhnya memuaskan, namun juga tidak sepenuhnya tidak dapat diterima dan tidak menyisakan kekecewaan. Implikasi ini akan berdampak pada optimumnya dukungan politik dan partisipasi politik publik di dalam pelaksanaan program pembangunan yang diorganisasikan oleh pemerintah hasil pemilihan melalui demokrasi perwakilan atau Demokrasi Pancasila. Pembelajaan seperti ini tentu bukan sebuah fenomena baru, melainkan sebuah pengulangan kritis terhadap pengalaman historis yang terjadi pada baik bangsa kita maupun bangsa-bangsa lain di dunia.

Pembelajaran juga merujuk kepada suatu sikap dan perilaku yang menjadikan segala sesuatu yang dapat dirasakaan dan difikirkan, sehingga dengan merasakan dan memikirkan sesuatu tersebut seorang manusia dapat membuat suatu simpulan-simpulan yang bernilai belajar, pengajaran atau pembelajaran. Sikap dan perilaku membandingkan kehebatan Fir’aun dan bala tentaranya dengan kekuasaan Allah yang menjadikan segala kehebatan Fir’aun itu tidak bernilai sama sekali dalam peristiwa tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya ketika mengejar Nabi Musa dan pengikutnya misalnya, telah menghasilkan pembelajaran tentang bahwa Tuhan Maha Besar, Maha Kuasa, dan kekuasaannya tidak terbatas. Pembelajaran dalam bentuk seperti ini lazim disebut oleh al-Qur’an dan para sejarawan, ahli ilmu dan tafsir al-Qur’an sebagai i’tibar ( Muhammad Fu’ad Abdul Baaqy, 1992:565).

I’tibar atau melakukan pembelajaran dengan berfikir, bersikap, dan mengambil tindakan atau perilaku tertentu berdasarkan pengalaman nalar intelektual atau nalar visual adalah penting[1]. Kepergian orang-orang Yahudi dan Nashrani dari Madinah pada masa Rasulullah adalah contoh yang di dalamnya berisi sangat penuh bahan pembelajaran, di dalam mana orang-orang yang memusuhi Nabi Muhammad itu merusak rumah mereka sendiri dan mengungsi keluar dari Madinah di atas anggapan bahwa mereka akan memperoleh ketenteraman dan keamanan di tempat pengungsiannya. Peristiwa itu alih-alih merupakan bentuk pertolongan Allah kepada orang-orang yang beriman dan berhati bersih, sehingga dengan iman dan kebersihan hatinya, mereka tidak perlu repot harus mengusir orang-orang Yahudi dan Nashrani yang selalu saja berbuat adu domba dan mengadakan permusuhan dari dalm masyarakat di dalam mana mereka hidup di dalamnya bersama umat Islam pengikut Nabi Muhammad SAW[2].

Pembelajaran juga dilakukan bangsa Indonesia di dalam menghadapi dan melawan penindasan penjajah Belanda. Pengalaman menghadapi dan melawan penindasan Belanda yang selalu datang menyerang dalam format berregu dan bersenjata api lengkap, sementara Bangsa Indonesia melakukan perlawanan tanpa kesiapan senjata dan tidak memiliki teknik berregu, maka kemudian ditemukanlah dari hasil pembelajaran oleh Jenderal Soedirman teknik “perang gerilya.” Taknik perang gerilya ini hingga munculnya film Rambo The First Blood part two masih benar-benar asli produk pembelajaran Bangsa Indonesia, yang terakhir diajarkan secara sistemik oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Sedangan John Rambo mengadopsinya ke dalam sebuah reproduksi teknik perang bergerilya versi Amerika Serikat, namun hanya dapat dijalankan dalam sebuah sskenario film, dan bukan dalam perang sebenarnya.

Pembelajaran melalui i’tibar juga terjadi dalam konteks sosial budaya yang lebih luas. Adalah Arsyad si tukan tusuk sate bernasib ajaib. Arsyad memperoleh jabat tangan khusus dari presiden baru Indonesia Joko Widodo setelah kreatifitasnya mengunggah foto Jokowi yang telah terlebih dahulu dusunting dengan tujuan informatif tertentu, dan kemudian disimpulkan oleh pihak kepolisian sebagai sebuah tindakan penghinaan terhadap presiden. Peristiwa ini tentu tidak pernah terjadi, dan bahkan tidak pernah terbayangkan akan mungkin terjadi pada masa kita hidup di tahun 1970-an. Era revolusi informasi telah mengubah segala hal yang berhubungan dengan informasi, sehingga seorang Arsyad pun bukan hanya menjadi bagian dari pelakon penting dalam wacana perang informatif, alih-alih keajaiban menjadikannya tersangka dan sekaligus memperoleh salaman khusus dari rpesiden dan memperoleh amplop dari istri presiden (Dryden, Gordon & Vos, Jeannette, terjemahan wor ++ translation service, 2000:19).

Banyak hal yang kita dapat ambil untuk kita jadikan i’tibar dari dalam kasus Arsyad tersebut, di antaranya adalah pembelajaran tentang pentingnya seorang pemimpin berjiwa besar sebagaimana dicontohkan oleh Jokowi yang memaafkan Arsyad pada saat kaki tangan Jokowi sendiri memandang Arsyad sebagai pesakitan yang harus dipenjarakan. Hal yang tidak kalah bernilai untuk dijadikan pembelajaran melalui i’tibar adalah yang berkenaan dengan betapa berita buruk dapat menjadi berita bernilai paling berharga dan bernilai jual tinggi. Pemberian maaf kepada Arsyad oleh Jokowi dan sekaligus pemberian amplop oleh istri Jokowi adalah sebuah peristiwa pencitraan yang sangat-sangat tidak terhingga dan tidak mungkin dibuat jika bukan berlatar belakang tuduhan penghinaan oleh Arsyad terhadap jokowi. Pemutaran arus informasi sedemikian rupa, dengan penyuntingan latar dan pengarahan plot sesuai keperluan untuk terbentuknya kesan dan citra tertentu telah membuat informasi yang tadinya ansih bertajuk penghinaan presiden oleh Arsyad, menjadi sebuah citra besar tentang kemuliaan dan bahkan dapat disebutkan sebagai keagungan budi presiden baru Jokowi.

Pembelajaran pengelolaan citra merupakan pembelajaran sosial yang sangat penting di dalam konteks belajar sosial dalam arti luas. Peristiwa Arsyad versus Jokowi merupakan sebuah sumber pembelajaran yang menunjukkan bahwa titik kontinum dalam sebuah peristiwa kontraversial dapat dikelola sedemikian rupa sesuai dengan kecerdasan dan kearifan pengelolanya untuk menghasilkan sebuah citra yang sesuai dengan kebutuhan sesaat. Pengelolaan kesan sosial budaya sebagaimana pengelolaan kesan pada peristiwa Arsyad versus Jokowi adalah sebuah kesan yang menfokuskan perhatian kepada “bagaimana setiap orang sepatutnya mengambil hikmat yang bermanfaat untuk dirinya dan orang-orang sebanyak mungkin dan sebaik mungkin, meski jika harus dari suatu peristiwa yang paling buruk sekalipun.”

Pembelajaran dalam konteks khusus, dalam sudut pandangan kependidikan dalam arti khas, merujuk kepada serangkaian aktifitas yang melibatkan teknik dan seni belajar dan mengajar serta mengajar belajar. Pembelajaran oleh karenanya lebih dimaksudkan sebagai sebuah pembelajaran di dalam sistem kelas atau kelompok belajar yang melibatkan guru, peserta belajar, dan juga seni dan teknik belajar mengajar dan mengajar beajar tertentu. Pembelajaran dilihat dari sudut pandang guru sebagai pengajar akan bermakna akifitas guru di dalam mengupayakan pengamalan seni dan teknik serta sarana dan prasarana yang dimilikinya untuk dapat menghasilkan efek pembelajaran yang efektif dan efisien bagi siswa dan siswi peserta belajar (Arends, Richard I. Terjemahan Helly Prajitno Soetjipto & Sri Mulyantini Soetjipto. 2008:1). Guru yang berpengalaman dalam hal ini tentu tidak akan beranggapan bahwa akan ada suatu teknik dan seni pembelajaran paling baik; karena pembelajaran akan melibatkan pihak selain guru, yakni siswa dan siswi peserta belajar dan juga sarana dan prasarana belajar yang juga akan memberi pengaruh terhadap tingkat efektifitas dan efisiiensi pembelajaran.

Permasalahan dari aktifitas dan usaha guru di dalam menghasilkan efek pembelajaran adalah, bahwa bahkan hampir di seluruh dunia terjadi perbedaan tajam tentang apa yang seharusnyaa diajarkan di sekolah. Dari dalam perbedaan ini muncul implikasi berupa kurikulum yang mengatasnamakan sebagai madzhab yang berbeda. Implikasi langsung dari kurikulum yang berbeda tentu adalah teknik dan seni pembelajaran (termasuk di dalamnya seni dan teknik pengajaran) yang berbeda-beda, sesuai dengan fokus masing-masing dan sifat dari tujuan dan sasaran masing-masing. Di antara yang merupakan salah satu ragam tersebut adalah yang menamakan dirinya sebagai madzhab esensialisme, suatu madzhab yang memandang bahwa guru harus mengajar siswa pengetahuan inti  dari mata-mata pelajaran esensial dengan jumlah yang sangat terbatas (Dryden & Vos, 2000:101).

Pemahaman terhadap hakikat pembelajaran dengan demikiran menjadi sangat penting bagi pemahaman mengenai strategi pembelajaran. Keragaman tersebut di atas dan perlunya suatu model yang juga masih dalam rentang keragaman, adalah penting dalam batas-batas yang dapat dijangkau oleh suatu prakiraan. Prakiraan terhadap efisiensi dan efektifitas hasil pembelajaran itu sangat penting bagi sebuah perencanaan pembelajaran, karena dengan prakiraan tersebut, maka sebuah rencana pembelajaran dapat memperkirakan apa hasil yang akan dicapai setelah selesai suatu proses pembelajaran. Tentu saja, sebagaimana dikemukakan oleh banhyak ilmuwan, prakiraan yang lazimnya didasarkan pada hukum-hukum alamiah tertentu tidak selamanya benar dan tidak harus benar melainkan harus memiliki frekuensi kebanyakan benar. Frekuensi yang menunjukkan kebanyakan benar seperti, bahwa 75 persen dari persitiwa langit merah cerah di pagi hari maka siang atau sore harinya akan terjadi cuaca buruk, sedangkan cuaca buruk juga terjadi pada suasana langit pagi hari abu-abu namun hanya dalam frekuensi berkisar 10 persen, maka peramalan dengan menggunakan pembandingan langit pagi merah cerah versus langit abu-abu menjadi sesuatu yang bermanfaat (Hill, terjemahan M . Khozim, 2000:19-20).

Hakikat pembelajaran pun, dipelajari dengan memperhatikan hukum-hukum alamiah dari kecenderungan yang terdapat pada manusia yang terlibat ke dalam prosesn pembelajaran dan persekitarannya. Banyak hal esensial yang dapat terlibat dan memberikan pengaruh menentukan bagi proses pembelajaran dan hasil-hasilnya akan menjadi suatu pembahasan di dalam memahami hakikat pembelajaran. Berdasarkan paparan mengenai pembelajara yang terjadi pada pengesahan UU pemilihan kepala daerah oleh DPRD, pembelajaran masyarakat Aceh setelah peristiwa tsunai, dan juga pembelajaran lainnya di bagian depan bab ini, kita hendak menunju kepada suatu pemahaman konstruktif mengenai hakikat pembelajaran. Pembelajaran akan sekurang-kurangnya mencakup serangkaian aktifitas yang melibatkan pengajar, pelajar, sumber belajar, lingkungan sarana dan prasarana belajar, serta teknik dan seni mengajar dan teknik dan seni belajar. Kesemua rangkaian aktifitas tersebut dalam arti khas diorganisasikan oleh pengajar, dan diorientasikan untuk sebesar-besar pencapaian hasil belajar yang telah ditetapkan dalam bentuk tujuan dan sasaran pembelajaran. Proses yang berbasis aktifitas prosedural tersebut dengan sendirinya melibatkan hubungan saling terkait dan saling perngaruh-mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor lainnya yang terlibat dan atau dilibatkan dalam proses  pembelajaran. Proses pembelajaran dalam pada yang seperti inilah maka kemudian ragam metode, strategi, dan teknik pembelajaran menjadi sebuah keniscayaan, dengan mana korelasi dan konstelasi antar faktor yang terlibat dalam sebuah pembelajaran berada dalam suatu komposisi yang dinamis sesuai dengan perubahan porsi dan proporsi masing-masing faktor.

Dalam pandangan praktis amalan pembelajaran dapat dilukiskan dengan contoh sederhana, misalnya, seorang atau sekelompok siswa yang sangat rajin dan memiliki kesehatan jasmani yang prima akan memerlukan lebih sedikit bantuan pengajar ketika mereka mempelajari suatu subjek dengan  fokus dan thema tertentu jika dibandingkan dengan seorang atau sekelompok siswa yang motivasi belajarnya masih rendah dan memiliki derajat kesehatan yang kurang prima. Kita pun pada saat yang sama akan membuat prediksi tentang pembelajaran bahwa akan sangat berbeda efek kehadiran seorang guru yang sama dalam kondisi guru tersebut sehat secara jasmani dan dalam kondisi ketenteraman bathin yang maskimum, jika dibandingkan dengan kehadirannya ketika dalam kondisi kesehatan fisiknya kurang prima dan dalam suasana kegundahan pribadi yang dibawanya dari rumahnya ke sekolah.

Kita dengan kata dan ungkapan lain yang sederhana juga dapat membuat sebuah prakiraan yang merujuk kepada pemahaman kita tentang hakikat pembelajaran bahwa, siswa dan guru serta fasilitas pembelajaran yang sama akan memiliki dampak keberhasilan pembelajaran yang berbeda jika masing-masing dari dua setting pembelajaran menunjukkan bahwa satu setting terjadi di dalam situasi perang, sedangkan setting yang lainnya dalam situasi damai. Analogi yang cukup mudah juga dapat membandingan antara pembelajaran di musim normal dengan pembelajaran di musim terjadi bencana alam banjir , katakanlah di Jakarta dengan banjir musimannya.

Pembelajaran oleh karena yang demikian merupakan serangkaian tindakan yang ditujukan untuk memperoleh  sesuatu yang baru, atau memodifikasi dan menguatkan pengetahuan, perilaku, keterampilan, nilai-nilai, atau preferensi dan mungkin melibatkan sintesis berbagai jenis informasi. Kemampuan untuk belajar dimiliki oleh manusia dan hewan. Kemajuan dari waktu ke waktu cenderung mengikuti kurva pembelajaran. Belajar tidak wajib namun bersifat kontekstual. Ini tidak terjadi sekaligus, tetapi dibangun berdasarkan dan dibentuk oleh apa yang sudah kita ketahui. Pembelajaran oleh karenanya dapat dilihat sebagai suatu proses, bukan kumpulan pengetahuan faktual dan prosedural. Pembelajaran menghasilkan perubahan dalam organisme dan perubahan yang dihasilkan relatif permanen[3].

Pembelajaran oleh manusia dapat terjadi sebagai bagian dari pendidikan, pengembangan pribadi, atau pelatihan. Pembelajaran mungkin berorientasi pada tujuan dan dapat dibantu oleh motivasi. Studi tentang bagaimana pembelajaran terjadi adalah bagian dari fokus kajian psikologi pendidikan, neuropsikologi, teori belajar, dan pedagogi. Pembelajaran dapat terjadi sebagai akibat dari pembiasaan atau pengkondisian klasik, terlihat di banyak spesies hewan, atau sebagai akibat dari kegiatan yang lebih kompleks seperti bermain, terlihat hanya pada hewan yang relatif cerdas.

Pembelajaran dapat terjadi secara sadar atau tanpa kesadaran. Pembelajaran mengenai suatu peristiwa yang tidak menyenangkan misalnya, tidak dapat dihindari atau melarikan diri dan disebut ketidakberdayaan yang dipelajari. Ada bukti untuk belajar perilaku manusia sebelum lahir, di mana habituasi telah diamati sejak 32 minggu ke kehamilan, menunjukkan bahwa sistem saraf pusat adalah cukup berkembang dan prima untuk belajar dan memori terjadi sangat awal dalam pembangunan.

Bermain telah diamati oleh beberapa teoretisi sebagai bentuk pertama dari pembelajaran. Anak-anak bereksperimen dengan dunia, belajar aturan, dan belajar berinteraksi melalui bermain. Lev Vygotsky setuju bahwa bermain adalah sangat penting untuk perkembangan anak, karena mereka membuat makna lingkungan mereka melalui bermain. 85 persen perkembangan otak terjadi melalui pembelajaran sambil bermain selama lima tahun pertama kehidupan anak-anak[4].

 DEFINISI DAN RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN

2.1. Definisi Pembelajaran

Pembelajaran  sebagaimana telah dibahas di dalam bab terdahulu dapat mencakup segala usaha perubahan  perilaku yang relatif permanen, dan terjadi sebagai hasil  daripada pengalaman. Istilah pengalam dapat merujuk kepda banyak dimensi kepengalamanan. Seorang yang mendengarkan sebuah paparan mengenai pengetahuan bidan tertentu, akan memperoleh pengalaman mendengar. Meski sebagaimana pepatah kita mengetahui bahwa dengan mendengar saja kita kemudian akan menjadi lupa, namun pengulangan mendengar adalah salah satu teknik menguatkan ingatan akan apa saja yang kita alami melalui pendengaran sebagaimana kita alami dalam pembelajaran bahasa tertentu, terutama bahasing asing. Pengalaman mendengar pula merupakan prasyarat untuk seseorang dapat mengucapkan suatu bunyi-bunyian atau kosa kata tertentu. Kita akan menjadi manusia bisu jika selama kita hidup sama sekali tidak memiliki pengalaman mendengar.

Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari ketiadaan mendengar bahasa manusia pada tokoh film Tarzan adalah salah satu yang paling ilustratif. Meskipun Tarzan sudah berusia cukup dewasa, namun dia jauh kalah kemampuan berbahasanya jika dibandingkan dengan anak manusia yang hidup dilingkungan manusia normal dalam hal penguasaan bahasa manusia, sehingga ketika Tarzan harus menyatu dengan komunitas manusia maka ia pun harus memulai belajar bahasa manusia dari tingkat paling dasar. Trazan sebagai manusia dengan kondisi kemampuan telinganya normal mendengar, tidak mampu mengucapkan kosa kata dari dalam bahasai manusia yang dijumpainya, oleh karena sejak kelahirannya dia tidak memiliki pengalaman mendengar bahasa manusia. Tarzan dengan demikian memasuki komunitas manusia dalam kondisi bisu sementara. Adapun seorang yang sejak terlahir memiliki telinga yang sepenuhnya tidak berfungsi mendengar, maka dapat dipastikan ia akan menjadi manusia bisu permanen.

Pengalaman melihat pun demikian, akan menghasilkan suatu pengalaman yang merupakan bagian prosedural dari pembelajaran. Adalah sebuah film berbahasa Inggeris yang diputar di sebuah stasiun televisi swasta ndonesia tahun 2001, dengan tokoh utama seorang tuna netra sejak lahir. Sang tuna netra memiliki kegemaran mendengarkan acara olah raga, di antara olah raga kesukaannya adalah olah raga kebanggan kebanyakan orang Amerika Serikat, Rugby. Pengalamannya mendengarkan siaran olahraga rugby di stasiun radio kesukaannya menjadikannya bukan saja mengerti benar apa itu rugby, bahkan mengenali nama-nama pemain rugby kenamaan asal Amerika Serikat satu persatu dengan karakteristik khas masing-masing.

Kesemua pengetahuannya mengenai rugby diperoleh sepenuhnya melalui pengalaman mendengar, namun sama sekali tidak dibarengi dengan pengalaman melihat pertandingan rugby. Ketiadaan pengalaman melihatnya tersebut diakibatkan oleh karena sang tuna netra tersebut memang mengalami cacat mata sejak kelahirannya, bola mata utuh namun tidak dapat melihat. Buta totalnya tersebut menjadikannya ketika duduk dibangku perguruan tinggi sudah memiliki kemampuan mandiri, sehingga kepergian dan kepulangan ke dari kampus juga mandiri.

Keajaiban muncul, ketika seorang mahasiswi yang tertarik dan jatuh hati kepadanya mulai berusaha mencari tahu tentang kebutaan yang dialami sang tuna netra. Alhasil, perempuan bermental baja pengagum tuna netra berparas ganteng yang cerdas tersebut menemukan dokter spesialis mata yang menjelaskan bahwa kebutaan sejak lahir itu bermacam ragamnya. Di antara kebutaan jenis tersebut ada yang dapat disembuhkan melalui cara operasi pembedahan ketika usia sang tuna netra sudah cukup dewasa.

Gadis pantang menyerah yang semakin jatuh hati kepada sang tuna netra tersebut akhirnya dengan segala upaya dan cara berusaha meyakinkan lelaki tuna netra yang dicintai tersebut untuk melakukan pemeriksaan mata kepada dokter spesialis mata yang dikenalnya tersebut. Berkat kesabaran dan kegigihannya, gadis tabah tersebut akhirnya berhasil mengantar sang tuna netra dambaannya mengunjungi klinik mata dokter yang dikenalnya. Keajaiban demi keajaiban muncul, karena dari hasil pemeriksaan pertama sang dokter menyatakan keyakinannya dan sangat meyakinkan sang tuna netra dan gadis pencintanya bahwa kebutaan yang dialaminya dapat sembuh total . Tindakan operasi, demikian papar dokter tersebut, akan memastikan bahwa sang tuna netra akan dapat melihat alam semesta.

Tentu proses meyakinkan sang tuna netra untuk menerima tawaran tindakan operasi selanjutnya bukan sebuah proses mudah dan cepat, namun akhirnya sang tuna netra menyatakan bersedia untuk menjalani pembedahan. Gadis pemujanya pun semakin meraskan harapannya akan menjadi semakin mendekati menjadi kenyataan. Dan akhirnya operasi pembedahan mata sang tuna netra pun dilaksanakan dan ajaibnya pula berhasil dengan gemilang.

Hari pertama setelah mata hasil operasi dibuka dari perban, sang tuna netra merasakan sebuah kejutan yang luar biasa membahagiakan. Dia baru menyadari bahwa gadis yang selama ini mendekatinya memang seorang gadis yang berparas cantik, di samping cerdas. Kegembiraan pun tersebar ke sluruh warga kampus universitas di dalam mana sang mantan tuna netra sejak masih tuna netra menimba ilmu. Semua orang mengucapkan selamat dengan decak kagum dan penuh syukur. Tentu ucapan selamat bukan saja mengalir disampaikan kepada mantan tuna netra, namun juga disampaikan kepada gadis yang telah berhasil meyakinkannya untuk menjalani pembedahan matanya.

Peristiwa penuh kegembiraan itu pun tiba-tiba harus berubah menjadi sebuah kekalutan psikologis yang membuat semua orang di sekeliling mantan tuna netra tersebut menjadi bingung. Alkisah, seperti biasanya, sang mantan tuna netra yang memang berkegemaran mendengarkan siaran radio acar pertandingan rugby itupun diajak oleh kekasihnya untuk menonton pertandingan rubgy di sebuah kompetisi tahunan yang sangat bergensin di Washington DC, Amerika Serikat. Alangkah terkejutnya ketika pertandingan dimulai dan saling benturan fisik antar pemin dengan lawan mereka di lapangan terjadi, sang mantan tuna ntera seketika histeris menjerit mengatakan , “oowwww….tidaaaaaaakkkkk.”

Kekasihnya seketika panik dan menanyakan apa gerangan yang terjadi pada mantan tuna netra tersebut. Beberapa kali pertanyaan dilontarkan, namun jawaban yang jelas belum juga diperoleh. Sambil menutupi mukanya sang mantan tuna netra pun terus berteriak, : “Tidaaakkkkk, ……….. tidaaaakkkk, jahaaatttt, jahaaatttt.” Gadis pemuja sangb mantan tuna netra pun semakin panik penuh kebingungan. Akhirnya muncullah kalimat dari mulut sang mantan tuna ntera bahwa dirinya sangat kecewa dengan benturan fisik antar pemain yang disebutnya sebagai biadab dan jahat. Ia juga mengatakan bahwa dirinya mau pulang dan tidak ingin menyaksikan acara pertandingan yang biadab itu.

Belakangan baru diketahui bahwa selama ini sang mantan tuna netra mendengarkan serunya pertandingan rugby dari dalam siaran radio dan tidak menyaksikan bagaimana persisnya situasi yang dianggap sebagian besar penonton bukan tuna netra itu sebagai puncak serunya pertandingan. Dalam benak sang mantan tuna netra tidak pernah tersirat atau terbersit bahwa serunya siaran radio yang menyiarkan pertandingan rugby itu adalah seru karena benturan fisik yang tidak pernah pula ada dalam pengalamannya selama buta. Dalam pikirannya, seru itu menunjukkan kebahagiaan, dan kebahagiaan tidak pantas terjadi pada saat manusia saling menubrukkan badan mereka secara sangat kasar. Tindakan kasar antara sesama pemain rugy yang disaksikannya, menurut pemahaman mantan tuna netra tersebut, sangat tidak patut untuk disoraki dengan penuh kegembiraan. Kesadisan tidak layak untuk disambut dengan riuh kegembiraan, pikir sang mantan tuna netra.

Dan, akhirnya sang mantan tuna netra pun meronta ingin  kembali menemui dokter mata yang membedah matanya untuk meminta dikembalikan ke kondisi semula, “saya tidak mau melihat, karena dunia orang yang melihat ternyata penuh kejahatan dan sadisme,: ucapnya. Begitulah akhir kisah filam sang tuna netra yang memiliki pengalaman sangat berkesan dari pendengarannya tentang rubgy, namun tidak pernah mengalami dengan penglihatannya bahwa rugby adalah olah raga adu fisik penuh kekerasan. Olah raga yang sangat dibanggakan rakyat Amerika Serikat ini ternyata, demikian pikiran sang mantan tuna nertra, “penuh kekerasan dan kesadisan”.

Para ahli ilmu kependidikan menyatakan bahwa seorang  manusia dapat melihat  perubahan terjadi tetapi bukan pembelajaran itu sendiri. Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati.

Kita telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku menurut  cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari kita (bahkan saya mayoritas dari kita) telah “belajar” dalam suatu tahap dalam hidup kita.

 

Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya.[i]

Pembelajaran dalam arti di dalam lembaga pendidikan dan pembelajaran dapat merupakan suatu proses interaktif peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Pembelajaran juga mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik.

 

Proses pengajaran ini namun  memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta belajar/ peserta didik. Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

BELAJAR DAN TEORI PEMBELAJARAN

 

  1. BELAJAR[5]

Belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh efek perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku melalui serangkaian pengalaman atau latihan yang diperkuat. Seorang anak usia lima tahun memasuki sebuah taman kanak-kanak, dan di dalam taman kanak-kanak tersebut ia berusaha berkenalan dengan sesamanya. Perkenalan tersebut menjadikannya bertambah dan terus bertambah percaya diri hidup di tengah-tengah sekumpulan orang-orang yang tidak dikenalinya sebelumnya. Perkenalannya pun menjadikannya memiliki pengetahuan baru, nama-nama teman barunya. Perkenalannya pula, menjadikannya terkena efek yang menjadikannya mengenal jenis-jenis kebiasaan orang lain. Perkenalanya juga menjadikannya tahu bahwa tidak semua kebiasaan dan perilaku teman-teman barunya dapat diterima olehnya, sehingga ia menjadi tahu bahwa di luar rumahnya banyak hal yang menyenangkan dan sekaligus hal-hal yang tidak menyenangkan.

Efek perubahan yang dihasilkan dari proses pembelajaran bersifat relatif permanen. Seorang anak peserta didik pada awal dia masuk ke sebuah sekolah dasar, sama sekali tidak mengenal sekadar judul lagu kebangsaan Indonesia Raya gubahan Wage Rudolf Supratman. Pengalamannya pada pekan pertama di sekolah mengikuti upacara bendera pada hari Senin, merupakan pengalaman yang penuh suasana gugup ketika pemandu upacara membacakan urutan acara bernama menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Pengalaman tersebut kemudian berubah, menjadi sedikit lebih santai ketika dia mengikuti upacara yang sama kali kesepuluh pada bulan ketika di sekolahnya. Syair lagu yang meski belum sepenuhnya dapat dihafal dengan baik, namun sudah dapat diikutinya secara sepontan ketika pemimpin lagu dan seluruh peserta upacara menyanyikan lagu tersebut. Dan, pada bulan keduabelas, ketika dia harus bersiap-siap naik ke kelas dua, dia sudah dapat dengan gagahnya lagu Indonesia Raya tersebut. Siswa yang usianya baru menjelang tujuh tahun itu, bahkan dengan bangganya menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya setiap kali perjalanan pulangnya dari sekolah, dan membuat sesiapa saja yang mendengarkannya ikut senang bercampur bangga. Pengalaman yang dibangunnya dari belajar ikut menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sudah sangat kuat, meski sang siswa sekolah dasar tersebut sejatnya belum pernah secara khusus membaca tulisan syair dan bait lagu tersebut, karena kelas satu memang masih belum waktunya untuk mempelajarinya secara formal. Pengalaman tersebut bahkan akan menjadi pengalaman yang sangat permanen, pengalaman yang melekat sampai usianya menjadi dewasa dan menjadi orang tua kelak.

Pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang semakin melekat dan terus semakin melekat setelah adanya proses penguatan yang merupakan akibat atau efek dari pengulangan. Pengulangan tersebut merupakan sebuah kejadian yang dalam konteks siswa sekolah dasar ini, berstruktur, atau berkerangka, yakni mengikuti kerangka acuan program kegiatan yang wajib diikuti oleh setiap siswa bernama upacara bendera setiap hari Senin. Pengulangan upacara bendera tersebut membuatnya terkerangkai pengulangannya dalam terpaksa harus menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Keterulangan dan keberulangan yang meski “dapat dikesankan” sebagai terpaksa tersebut telah mengkerangkai ingakatan nalar dan respons efaktifnya sehingga pada pengulangan yang ke 54 kali di ahir masa sekolahnya di tahun pertama telah menjadikannya memiliki pengalaman yang permanen berupa kepiawaian menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Kita dapat belajar tentang prosedur dan proses pembelajaran yang analog atau setimbangan dengan pembelajaran menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya tersebut di atas dengan memperhatikan anak-anak usia setahun hingga dua tahun yang belajar berdiri dan berjalan. Sebuah ilustrasi yang sangat tegas dan jelas mengenai prosedur dan proses pembelajaran berjalan oleh anak-anak telah dilukiskan dalam buku Quantum Learning (Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2000).  Ketika seorang bayi berusia setahun melihat orang-orang di sekitarnya berdiri dan berjalan, serta dengan mudahnya meraih apa saja yang terletak di ketinggian, maka anak manusia tersebut memainkan kekuatan instinktifnya untuk berusaha menitu orang dewasa berdiri dan berjalan. Anak tersebut tentu saja dengan tidak memiliki pengalaman apapun, berusaha dan gagal. Usahanya dilakukan dengan menambah prosedur, memegangi kaki meja yang kedapatan di dekatnya, mengalami kemajuan karena dengan demikian bayi tersebut dapat berdiri dengan berpegangan, namun tidak mampu bertahan lama dan kemudian terlepas dari pegangannya dan terjatuh.

Badan bayi tersebut merasakan sakit karena memar akibat terjatuh, namun telah memperoleh bayaran, dapat berdiri meski dengan berpegangan dan hanya sebentar. Memori yang tersimpan di kepalanya mengatakan bahwa meski peristiwa detil jatuhnya telah terlupa, namun akibat jatuhnya cukup menyakitkan badannya. Memori di dalam otaknya juga pada saat bersamaan mengatakan juga, bahwa pengalamannya dapat berdiri itu, meski sambil memegang kaki meja, adalah sesuatu yang hebat dan luar biasa. Penasarannya mendorongnya untuk mengulang apa yang diingatnya, berdiri dengan memegang kaki meja. Pengulangan kali ini benar-benar luar biasa, karena ternyata kakinya, badannya, dan tangannya terasa lebih mantap sehingga dapatlah bayi tersebut berdiri dengan berpegangan kepada kaki meja, namun dengan lebih tegak dan lebih mapan. Instinknya pun mendorongnya untuk tertawa khas ala bayi, sehingga orang-orang, ayahnya, ibunya, kakeknya, neneknya, dan siapa saja di sekitar bayi tersebut serentak terkejut dan kemudian tersadar bahwa anggota komunitas terkecilnya baru saja menyelesaikan tahapan pembelajaran, berdiri. Berdiri dengan memegangi kaki meja, lazim di Indonesia disebut merambat. Sebuah kepandaian baru yang merupakan hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran yang diselingi dengan jatuh dan menjadikannya badannya memar dan mengalami demam selamam suntuk, namun pengalaman permanen diperolehnya, berdiri sambil verpegangan kaki meja dengan lebih tegap dan lebih mantap (lebih permanen).

Peristiwa pembelajaran yang analog terhadap peristiwa anak belajar menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya juga dapat merujuk pada pembelajaran bahasa di seluruh negara, bangsa dan lingkungan suku yang ada di dunia. Setiap anak yang terlahir akan berusaha dengan mengikuti instinknya meniru apa yang didengarnya dari orang-orang desawa di sekitarnya. Kita dapat dengan mudah melihat, mengapa anak-anak usia lima tahun mengucapkan 85 persen dari keseluruhan kosa kata dalam bahasa ibu mereka. Seorang anak usia 5 tahun di kalangan suku Sunda dengan lancarnya mengutarakan kalimat berbahasa Sunda, demikian pula anak dari suku Jawa di lingkungan masyarakat Jawa, demikian juga dengan anak dari keluarga Batak, Minangkabau dan Aceh atau Ambon.

Kita pada saat bersamaan, akan dengan mudah pula menemukan betapa susahnya anak-anak siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia untuk dapat mempraktekkan hasil belajar Bahasa Inggeris mereka. Masa belajar anak kelas tiga SMU sudah 12 tahun, namun intensitas pembelajarannya jauh kalah dengan yang diperoleh oleh anak usia lima tahun dan belajar bahasa ibu mereka langsung dari ibunya. Intensitas yang terutama diperoleh dari pengulangan adalah segi pembelajaran yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil belajar. Intensitas pembelajaran bahasa ibu yang diperoleh dari pengulangan yang sangat tinggi jumlah dan kualitasnya oleh anak balita bahkan mengalahkan kualitas hasil belajar bahasa Inggeris pada anak sekolah baik sd, smp, maupun SMU. Hal yang tidak kalah penting tentu adalah bahwa proses pengulangan yang intensif pada anak balita yang belajar bahasa ibu mereka, tidak terhambat oleh masalah-masalah seperti malu ketika terjadi kekeliruan sehingga takut mempraktikkan hasil belajar mereka.

Hambatan rasa malu mempraktikkan hasil belajar dapat terjadi karena kurang memadainya jumlah lingkungan yang mempraktikkan Bahasa Inggeris di Indonesia. Kurangnya medium perbincangan sehari-hari yang berbasis bahasa Inggeris menjadikan para pembelajar akan menjadi sangat menonjol jika mereka mempraktekkan hasil belajarnya, dan tentu jika terjadi kekeliruan dalam pengucapannya. Kekurangan di tengah jumlah yang kurang memadai itulah yang menyebabkan rendahnya tingkat atau derajat pengulangan, sehingga hasil belajar mereka pun jauh lebih rendah kuantitas dan kualitasnya jika dibanding dengan tingkat permanensi hasil pembelajaran bahasa oleh anak-anak balita yang mempelajari bahasa ibu mereka langsung dari lingkungan keseharian yang berbasis bahasa ibu mereka tersebut. Tentu saja, dari dalam pengalam dan penelitian, belum ditemukan adanya seorang balita yang menjadi malu ketika mengalami kekeliruan mengucapkan kosa kata dari dalam bahasa ibu mereka. Dalam hal terjadi kekeliruan pengujaran kosa kata pada mereka pun, tidak akan memperoleh respons dari lingkungan yang membuat anak-anak balita pembelajar bahasa tersebut menjadi malu, alih-alih akan menjadi kelucuan alamiah yang menghibur dan menyenangkan semua pihak yang terlibat.

Pepatah mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang paling baik.” Ungkapan bijaksana dari ranah budaya China menyebutkan bahwa Lao Tse pernah mengatakan: “aku mendengar, kemudian aku lupa; aku melihat, kemudian aku tahu; aku terlibat, baru aku faham. Pepatah dan ungkapan bijaksana tersebut menunjukkan melalui berbagai pengalaman empiris bahwa  efek perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku melalui serangkaian pengalaman. Efek permanen dalam perilaku yang diperoleh melalui “serangkaian pengalaman,” menunjukkan bahwa pengalaman yang terrangkai adalah bukan sebuah pengalam saja, atau hanya sejumlah kecil pengalaman. Hanya sejumlah banyak pengalaman saja yang memungkinkan kita menjadikannya sebuah rangkaian pengalaman.

Kata-kata serangkaian pengalaman dalam hal ini mengarahkan kita kepada suatu pesan bahwa untuk memperoleh pengetahuan dan kepiawaian berperilaku tertentu dengan kualitas yang baik sehingga memiliki derajat permanensi yang tinggi diperlukan sejumlah besar pengalaman. Pepatah melayu mengatakan, “hafal kaji karena diulang, hafal jalan karena ditempuh,” memberi kita sebuah pesan bahwa jika kita hendak menjadi hafal tentang sesauatu, maka kita harus mengulang pengalaman dengan cara mengulang-ulang jika yang dimaksud adalah sebuah pelajarn, atau dengan cara menempuh atau melaluinya jika itu adalah sebuah route perjalanan.

Pengalaman atau hasil latihan yang diperkuat pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang terlatensikan ke dalam bentuk perilaku yang dibiasakan atau terbiasakan oleh pembelajar. Adalah sangat menarik perilaku seorang atlet bela diri silat, karate, sorinji kempo, aikido, atau kungfu. Ketika dalam keadaan tertidur mereka tersentuk oleh sesuatu yang mengejutkan, pada umumnya atlet bela diri akan merespons keterkejutannya dengan pasang kuda-kuda dengan posisi kesiagaan yangtertentu. Respons spontan jenis ini terutama sekali akan terjadi pada atelet yang telah benar-benar terlatih dan memiliki pengalaman hidup sebagai atlet bela diri yang cukup panjang, mungkin sepuluh tahun atau lebih.

Respons spontan seperti ini, sebagai sebuah efek permanen hasil pembelajaran sebenarnya juga terjadi pada seluruh masyarakat, semua kalangan, dan semua usia. Seorang obu di Betawi pada umumnya ketika terkejut akan berteriak spontant , “e copot-copot-copot.” Ibu-ibu di Betawi yang berlatar kehidupan sebagai santri namun demikian akan berteriak, “astahfirullah,” sementara ibu-ibu di Betawi yang tidak beragama Islam boleh jadi akan berteriak , “astaga.” Kesemuajenis respons spontan yang berbeda-beda tersebut sering lepas dari perhatian kita bahwa kesemua itu adalah efek permanen dari hasil pembelajaran. Dari fakta empirik yang sering kita jumpai, kita sebenarnya sudah sepatutnya belajar terhadap nasihat Nabi SAW agar kita men”talkin” orang-orang yang hendak meninggal dunia. Nasihat yang maksudnya adalah, bahwa karena semua manusia pasti akan meninggal dunia, maka talkin yang intinya adalah mengajarkan ikrar laa ilaaha illallaah tersebut dinasihatkan agar dilakukan kepada setiap orang. Nasihat yang tampak sederhana ini tentu saja maknanya sangat dalam, mengingat tidaklah mudah untuk menjadikan seseorang memiliki repsons spontan terhadap keadaan darurat dengan berucap laa ilaaha illallaah, selain jika yang bersangkutan telah membiasakannya sejak lama. Mengajarkan agar manusia membiasakan diri mensikapi keadaan ekstra sulit setingkat dengan keadaan sakit menjelang ajal tiba dengan berucap atau mengucapkan laa ilaaha illallah  oleh karenanya menjadi sebuah persoalan sangat penting. Kepentingannya adalah jelas karena masih merujuk kepda nasihat Nabi SAW bahwa sesiapa yang mengahiri rangkaian hidupnya dengan kalimah laa ilaaha illallaah maka dijamin akan masuk surga. Sedangkan dalam kenyataan, sangat tidak mudah untuk menjadikan kita manusia mempunyai kemampuan permanen merespons situasi yang setara dengan sakaratul maut dengan ucapan tahlil laa ilaaha illallaah tersebut.

Berbagai peristiwa analogis terhadap prosedur prosesual pembelajaran dalam arti khas di atas juga menunjukkan bahwa belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.  Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Seorang pelajar sejak kelas satu sekolah dasar hingga kelas tiga atau tamat sekolah menengah atas, senantiasa setiap semesternya memperoleh pelajaran ilmu hitung yang merupakan bagian terpenting dari pelajaran matematika. Sebagian orang boleh jadi berfikir bahwa jika kelak pelajar tersebut tamat dan kemudian melanjutkan hidupnya sebagai petani, maka matematika atau khususnya ilmu hitung yang dipelajarinya selama 12 tahun di sekolah tidak akan bermanfaat lagi. Fikiran tersebut adalah keliru, sangat keliru. Kita misalnya akan membuat perbandingan antara sang pelajar yang lulusan sekolah menengah atas dan hidup sebagai petani dengan petani lain di desanya yang seusia namun tidak pernah bersekolah sehingga tidak pernah belajar matematika sama sekali selama hidupnya. Katakanlah, suatu ketika masing-masing dari keduanya mendapat bantuan berupa pinjaman lunak tanpa bunga dari sebuah perusahaan yang mensponsorinya bertani menanam kentang senilai masing-masing Rp.50.000.000,00.

Uang pinjaman tersebut harus dikembalikan seminggu setelah panen kentang selesai dengan asumsi bahwa masing-masing keduanya menggunakan uang pinjaman tersebut untuk membiayai penanaman kentang di atas lahan satu hektar. Dalam pengalaman petani di Wonosobo dan Pangalengan, jika penanam kentang dilakukan secara tradisional maka kentang yang diperoleh dari hasil panen satu hektar akan mencapai 30 hingga 34 ton. Bantuan berupa pinjaman tersebut dimaksukan juga agar petani dapat membeli bibit kentang kualitas terbaik yang akan memakan biasa bibit 20 persen lebih tinggi dari pada penggunaan bibit lokal buatan mereka sendiri. Penggunaan bibit kualitas terbaik namun demikian akan menjadikan mereka berpotensi panen mencapai 40 ton perhetar.

Ketika keduanya dihadapkan kepada situasi harus memutuskan apakah mereka akan menerima bantuan berupa uang pinjaman, maka dengan sangat mudah dapat ditebak bahwa petani berijasah sekolah menengah atas akan lebih dahulu memutuskan sekaligus membuat keputusannya dengan alasan yang jauh lebih rasional oleh karena prakiraan pengembalian modal dan perhitungan untung-rugi akan dapat dibuatnya dengan lebih cepat dan lebih akurat. Kecepatan dan akurasi perhitungan yang dijadikan dasar penerimaan atau penolakannya, tentu akan menunjukkan bahwa respons petani terpelajar lebih menarik perusahaan pemberi sponsor berupa bantuan pinjaman uang tanpa bunga, dan dari perhitungan yang dijadikan dasarnya dalam memuutuskan menerima atau menolak pinjaman tersebut akan membuat sponsor dapar dengan mudah memahami dan terpuaskan.

Katakanlah, bahwa setelah dihitung dengan sangat cermat, ternyata dengan asumsi kontrak harga pembelian kentang hasil panen oleh sponsor seharga Rp.3.500,00, maka jika panen kentang mencapai maksimum 40 ton dan total biaya penanaman dari mulai biaya penyiapan lahan, bibit, pupuk, upah kerja perawatan tanaman hingga biaya pemanenan hanya menghabiskan Rp.40.000.000,00 maka kemungkinan besar petani akan menerimanya dengan senang hati. Penerimaan tersebut, namun demikian, akan sangat jelas perhitungannya pada petani berpendidikan sekolah menengah atas jika dibanding dengan perhitungan petani yang tidak bersekolah.

Pengalaman berhitung secara matematis dengan demikian akan berpengaruh atau memberi efek  menstimulasi petani terpelajar dalam merespons tawaran bantuan dari sponsor dengan respons matematisnya. Petani yang tidak bersekolah pun tentu saja merespons tawaran yang sama, namun respons dari petani tidak bersekolah tidak matematis, sehingga jika sponsor adalah sebuah perusahaan maka respons balik yang akan muncul dari sponsor adalah memandang petani terpelajar yang memiliki prospek untuk diberi bantuan dengan jumlah lebih besar dan dengan program yang lebih jangka panjang sebagai mitra perusahan sonsor tersebut.

Stimulus berupa pemberian pelajaran dari guru di sekolah dalam hal ini telah menghasilkan respons berupa pembiasaan berfikir dan berhitung secara matematis. Perilaku responsif matematis tersebut bersifat permanen dan bahkan menjadikan petani terpelajar merespons stimulus berupa tawaran bantuan pinjaman dana tanpa bunga dengan respons matematisnya pula. Perilaku responsif matematis tersebut akan menjadi terulang sedemikian rupa, dalam rentang panjang akan semakin menjadi bagian dari prilaku dan kepribadian yang menguat dan semakian menguat, dan permanen (Hill, Winfred, F., terj. M. Khozim, 2010:50-53)

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar –termasuk di antaranya pelajaran matematika-, sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut –termasuk perilaku berkebiasaan menghitung yang melekat dan permanen-. Stimulus dalam konteks ibu-ibu di tanah Betawi yang terbiasa mengikuti pengajian di majlis taklim atau di masjid dapat berupa ceramah dari guru mengaji mereka agar ketika terkejut menyebut atau mengucap astaghfirullah, dan manakal terjepit situasi ekstra sulit dan mencekam mengucapkan kalimah laa ilaaha illallaah. Respons tingkat satu dari ibu-ibu dapat berupa perilaku spontan yang terbiasakan dalam mengucapkan astaghfirullah dan laa ilaaha illallaah.  Perilaku ini akan melekat dan menjadi model respons yang dapat secara spontan muncul kapan dan di mana saja ibu-ibu tersebut mengalami situasi stimulatif sejenis, dengan merespons dengan ucapan astaghfirullah dan atau laa ilaaha illallaah.

Proses yang terjadi antara stimulus dan respon dapat saja kita anggap tidak penting untuk diperhatikan karena tidak mudah untuk dapat diamati dan tidak mudah untuk diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respons, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respons) harus dapat diamati dan diukur. Proses itu sendiri tentu saja akan dapat dengan lebih mudah diamati dan diukur oleh para ahli psikologi komunikasi, terutama yang secara khusus memfokuskan kajian mereka kepada psikologi komunikasi pembelajaran.

Belajar sebagai sebuah usaha terrencana untuk memperoleh efek perubahan dapat didefinisikan juga dengan paparan sebagai berikut:

  1. Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotor. Tidak terbatas hanya penambahan pengetahuan

Perubahan perilaku kognitif dapat kita simak dari perubahan yang terjadi pada anak balita yang mempelajari bahasa ibu mereka, kemudian dalam masa dan dalam usia lima tahun menguasai 85 persen dari kosa kata dalam bahasa ibu mereka tersebut. Penguasaan kosa kata dari dalam suatu bahasa dengan sendirinya merupakan suatu yang menunjukkan perubahan koginitif karena bahasa adalah ekspresi dari kognisi manusia. Nalar manusia dengan segala pengetahuan yang ada di dalamnya terekspresikan dalam bentuk perilaku dan maknanya dikonstruksi dengan menggunakan bahasa. Alam nalar dan perasaan manusia dengan demikian dapat dilihat dari dalam bahasa yang diutarakan oleh manusia yang merasakan dan memikirkannya.

Perubahan Perilaku afektif dapat kita simak pada gejala sikap anak yang meski sudah terjatuh dan badannya memar hingga mengalami demam semalaman, namun dia atau mereka memilih bersikap untuk memilih mengulangi perbuatannya belajar berdiri dengan berpegangan kaki meja. Pertimbangan memilih mengulangi aksi atau tindakannya tersebut tentu didasarkan kepada nalar instinktifnya bahwa keinginannya dapat berdiri sudah hampir tercapai, dan pencapaian yang belum sempurna pun sudah sangat berharga meski harus dibandingkan dengan harga bayarannya yaitu badannnya memar akibat jatuh selepas terlepas dari berpegangan kaki meja. Perubahan afektif juga terjadi pada anak-anak tertentu yang menemukan simpulan bahwa mengabaikan rasa malu ketahuan berbahasa asing secara tidak fasih tidak terlalu penting jika dibanding pentingnya penguasaan bahasa Inggeris. Anak dengan simpulan seperti ini biasanya cenderung lebih aktif dalam pembelajaran bahasa Inggeris, shingga akhirnya sering berakhir dengan pencapaian kemampuan berbahasa Inggeris yang lebih baik jika dibanding dengan kemampuan rata-rata siswa lainnya.

Perubahan psikomotor sebagai hasil proses pembelajaran dapat dengan mudah kita jumpai pada kemampuan berjalan meski sambil merambat pada anak bayi yang belajar berdiri. Peristiwa yang senada atau analog juga dapat kita jumpai pada perubahan kecepatan menulis dengan huruf latin bersambung. Anak-anak pelajar pada masa kelas satu masih jauh dari mampu menuliskan huruf latin bersambung, namun kemampuan itu kemudian muncul ketika anak-anak yang sama memasuki usia kelas tiga. Seiring dengan intensitas pemakaian teknik menulis dengan tulisan huruf latin bersambung yang dipraktikkan setiap hari pada pencatatan berbagai mata pelajaran, maka ketika anak pelajar yang sama duduk di kelas lima, maka tulisan dengan huruf latin bersambung mereka sudah jauh lebih rapi, dan penulisannya pun jauh lebih cepat. Peningkatan atau perubahan dari menulis lambat dengan hasil kurang baik menjadi menulis huruf latin bersambung dengan hasil yang jauh lebih baik dan cepat adalah perubahan motorik pada siswa pembelajar menulis huruf latin bersambung.

 

  1. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula (sebelum belajar). Tidak dapat diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.

Seorang siswa sekolah dasar yang beragama Islam di indonesia pada umumnya sudah terlebih dahulu menyelesaikan program pendidikan prasekolah di lembaga pendidikan taman kanak-kanak al-Qur’an. Pendidikan prasekolah ini pada prinsipnya disediakan dalam usaha memastikan anak-anak belajar agama sejak dini, sehingga di dalam lembaga pendidikan tingkat ini setiap siswa sudah diajari melakukan ibadah sholat lima waktu. Hasil pembelajaran sejak usia prasekolah inilah pada kenyataannya yang kemudian menjadi buah pembelajaran yang menghasilkan perubahan yang permanen, karena bahkan anak-anak peserta pendidikan prasekolah tersebut akan selalu mengingat bentuk-bentuk pengalaman pembelajaran sholat mereka hingga mereka menjadi dewasa, tua, dan bahkan hingga menjelang ajal tiba.

 

  1. Proses perubahan tingkah laku dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian terhadap sikap dan nilai-nilai pengetahuan yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan.

Peristiwa yang terjadi pada petani lulusan sekolah menengah atas adalah peristiwa yang melukiskan bahwa hasil pembelajaran matematikanya bukan saja mengemuka dalam bentuk penguasaan matematika, namun juga akhirnya penggunaan matematika yang dikuasainya dalam kehidupan praktisnya di dalam alam pertanian. Pengalmalannya terhadap matematika di dalam kehidupan nyata juga menunjukkan bahwa di atas dasar kemampuan dan pengamalan matematika tersebut sang petani lulusan sekolah menengah atas tersebut memiliki sikap yang berbeda jika dibanding dengan petani yang tidak bersekolah. Sikap yang berbeda tersebut ditunjukkannya bukan saja dalam hubungannya dengan rasionalisasi keputusan menerima bantuan dari sponsor, melainkan juga di dalam mengeksekusi pemanfaatan dana pinjaman bantuan dari sponsor tersebut secara cepat  dan akurat.

 

  1. Perubahannya tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar. Perubahan yang segera terjadi umumnya tidak dalam bentuk perilaku, tapi terutama hanya dalam potensi seseorang untuk berperilaku.

Perilaku menganalisis secara matematis aspek-aspek yang harus dipertimbangkan oleh petani lulusan sekolah menengah atas terhadap tawaran bantuan pinjaman modal dari sponsor boleh jadi merupakan sesuatu yang tidak pernah ada dalam pembelajaran matematika. Analogi nalar matematis, sikap matematis, dan perilaku matematis namun demikian telah melekat dan menguat serta semakin menguat hingga menjadi permanen dalam pribadi petani tersebut. Perilaku menalar, mensikapi dan memperlakukan tawaran bantuan berupa pinjaman modal tanpa bunga dari seponsor sebagaimana dikupas di bagian depan oleh karenanya, mengemuka sedemikian rupa setelah sekian tahun proses pembelajaran nalar matematis, sikap matematis dan perilaku matematis itu sendiri selesai dan tidak dilakukan lagi dalam bentuk pembelajarn kelas.Kepiawaian yang mengemuka dari dalam pribadi petani tersebut juga boleh jadi bermula dari tingkatan yang lebih sederhana, kemudian secara berangsur meningkat, sehingga kemudian menjadi perilaku responsif matematis yang tergolong refleksif, cepat dan akurat.

 

  1. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman, praktik atau latihan, dan berbeda dari perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.

Pengulangan praksis (amalan) yang dilakukan anak bayi belajar berdiri sambil merambat, maupun anak balita yang belajar bahasa ibunya, maupun pada petani yang belajar matematika kepada gurunya di kelas menjalani pembelajarannya dengan prosedur mengalami. Pelatihan adalah prosedur yang paling banyak ditempuh dalam mengajarkan matematika, sehingga pelajar matematika akan semakin diyakini menjadi pelajar yang berhasil jika banyak melakukan pelatihan memecahkan persoalan menggunakan formula matematika. Model pembelajaran ini sangat berbeda dengan model pembelajaran teori sosial di kelas yang meskipun dilakukan simulasi, tetap saja jauh dari model kepengalamanan (experiencial model). Petani lulusan sekolah menengah atas yang kita sebut di muka tentu saja menjadi demikian cepat dan akurat dalam mengamalkan perhitungan matematisnya setelah mengalami berulang kali penggunaan matematika dalam aplikasi nyata di dalam kehidupan sebenarnya. Dalam pada praksis seperti inilah, maka pepatah Lao Tse menjadi semakin terasa aksiomatiknya, bahwa untuk memahami sesuatu kita harus terlibat dengan cara langsung mengalami, bukan hanya melihat…apalagi hanya mendengar.

 

  1. Perubahan akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat, berupa upahan yang diterima-hadiah atau hukuman – sebagai konsekuensi adanya perubahan perilaku tersebut.

Manusia, demikian juga dengan pelajar atau pembelajar pada umumnya adalah makhluq yang akan melakukan sesuatu dengan arah pencapaian tertentu jika terdorong oleh sesuatu atau tertarik oleh sesuatu,…atau terdorong dan tertarik oleh sesuatu sekaligus. Situasi manusia seperti ini kami  namai sebagai manusia dalam spektrum gravitasi sosial. Artinya, manusia sebagai makhluq yang tidak mungkin memenuhi seluruh kebutuhannya dengan dirinya sendiri, akan mengharapkan adanya sesuatu yang menarik perhatiannya karena seauatu itu menjanjikan diperlehnya sarana atau prasarana pemenuhan kebutuhannya. Atau, boleh jadi manusia akan pada suatu saat merasakan bahwa dirinya harus melakukan sesuatu agar dirinya terbebas dari terhalang untuk mempeproleh kebutuhannya. Atau, pada satu saat kedua alasan untuk melakukan sesuatu karena di satu sisi ada tersedia sarana dan prasarana pemenuhan kebutuhannya, di sisi lain dari arah berlainan terdapat potensi yang dapat menghalangi diperolehnya sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam pada situasi seperti ini, maka gravitasi sosial budaya telah menjadikan manusia harus melakukan atau berperilaku yang tertentu.

Perilaku tertentu bukanlah sesuatu yang kepiawaiannya terbawa dari alam sejak lahir, melainkan harus dipelajari dari masyarakat yang lebih dahulu sudah mengamalkannya. Harapan bahwa dengan dapat atau piawai berperilaku tertentu akan menjadikan seseorang dapat memperoleh sarana dan atau prasarana pemenuhan kebutuhannya, atau sebaliknya dengan perilaku tertentu maka seseorang akan terhindar dari terhalang memperoleh sarana dan prasarana pemenuhan kebutuhannya, maka sesuatu, atau perileku tertentu itu menjadi menarik untuk dipelajari.

Seorang siswa menjadi sangat tertarik untuk mempelajari matematika oleh karena dirinya mengetahui bahwa orang-orang yang menguasai matematika dengan baik akan memperoleh peluang untuk menerima beasiswa di sekolah yang lebih tinggi. Lembaga pendidikan pada saat bersamaan merangsang siswa dan mahasiswa agar mereka rajin belajar dengan menawarkan beasiswa bagi pelajar yang memperoleh prestasi terbaik. Prestasi terbaik, padahal, pada saat bersamaan merupakan indikator yang dicari oleh para pencari pekerja (head hunter) dan tidak jarang mereka memberikan tawaran gaji ekstra tinggi untuk pelajar yang meski masih duduk di bangku sekolah namun memiliki prestasi pelajaran yang bagus atau terbaik.

 

  1. Proses perubahan dalam belajar menuju ke arah tujuan yang lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Dalam pembelajaran, sebuah usaha bekajar senantiasa bertolak dari tujuan tertentu dan dengan sasaran yang tertentu pula. Pembelajaran tidak formal seperti dalam kasus seorang bayi belajar berdiri dan berjalan, karena pengetahuan instinktifnya mengatakan bahwa orang-orang dewasa di sekelilingnya dapat dengan mudahnya meraih apa saja yang diingininya dikarenakan mereka dapat menjangkau ketinggian. Kemampuan dapat menjangkau ketinggian, dan kemudian dapat menjangkau banyak hal yang terletak di wilayah ketinggian seperti makanan, minuman, dan perkakas hidup merupakan akibat dari karena orang dewasa dapat berdiri dan berjalan. Dapat berdiri dan berjalan layaknya orang dewasa kemudian dijadikan simpulan sang bayi sebagai sesuatu yang harus dituju oleh setiap manusia bayi. Sasarannya, agar dengan berdiri dan berjalan, maka kapan saja dirinya menginginkan sesuatu, termasuk yang di simpan orang dewasa di tempat-tempat berketinggian tertentu, akan dapat meraih dan memperolehnya kapan saja tanpa memerlukan bantuan orang dewasa, dan bahkan tanpa seizin orang dewasa.

Kemampuan untuk dapat mengambil sendiri apa saja yang diperlukan tanpa menunggu persetujuan dan bantuan orang diwasa adalah sesuatu yang secara instinktif diketahui  oleh setiap anak manusia sebagai lebih baik jika dibanding dengan bergantung kepada persetujuan dan bantuan orang dewas. Berdiri dan berjalan adalah prasyarat untuk dapat melakukan pemenuhan kebutuhan secara mandiri. Mampu berdiri dan berjalan oleh karenanya, kemudian menjadi sesuatu yang ditetapkan sebagai tujuan belajar, belajar mandiri dengan merambat dengan tujuan dapat berdiri dan berjalan, oleh karena dengan kemampuan tersebut seorang anak bayi akan dapat mencapai sasaran-sasaran yang sesuai dengan keperluan memenuhi segala kebutuhan secara mandiri.

Kemampuannya berdiri dan berjalan pun akhirnya dirasakan sebagai sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri si bayi sendiri maupun bagi orang-orang di sekelilingnya. Si bayi akan memperoleh manfaat dari kemampuan barunya berupa kemudahan dan kecepatan memperoleh segala kebutuhan yang dapat diperoleh dengan cara mengambil di berbagai tempat berketinggian tertentu. Manfaat yang tidak kalah penting diperoleh oleh orang-orang dewasa di sekelilingny yakni bahwa kemamouan si bayi menjadikan orang di sekelilingnya terbebas dari kewajiban membantu si bayi untuk mendapatkan kebutuhannya. Dengan terbebasnya dari kewqjiban ini, maka orang-orang dewasa di sekeliling bayi akan memiliki luang waktu untuk mengerjakan pekerjaan rutin yang lebih diperlukan, seperti berbisnis atau bekerja sebagai pegawai atau pekerja mandiri.

 

  1. Perasaan bangga dalam diri karena dapat mengerti dan paham akan apa yang di pelajari.

Pengetahuan instinktif yang diperoleh sebagai hasil proses pengilhaman (wahyu atau inspirasi pemberian Tuhan langsung kepada setiap manusia, binatang dan tumbuhan serta seluruh makhluqnya) dapat kita temukan pada kemampuan naluriah (gharizah/ instink) seperti anak bayi tersenyum ketika sedang menangis karena kesepian kemudian didatangi oleh ibundanya dan diberi minum dari air susu ibundanya. Demikian pula seorang bayi usia setahun tiba-tiba memecah keheningan dengan tertawa khasnya karena bayi tersebut memperoleh tambahan kemampuan baru, merambat keki meja dan dengannya ia dapat berdiri. Sebuah iklan susu foermula terinspirasi dengan kejadian alamiah ini dan menjadikannya sebuah spot iklan dengan ungkapan nenek yang terkejut melihat cucunya dengan merambat berhasil berdiri dan menyambutnya dengan ucapan, “eeee cucuku sudah bisa berdiri.”

Peristiwa sejenis ini atau setara ini sejatinya sering terjadi dan terus berulang terjadi, dari satu tingkatan disusul oleh peristiwa dengan tingkatan yang lebih tinggi. Bagi para pembelajar, apakah ia seorang bayi, atau pelajar yang naik kelas, atau pelajar yang memperoleh prestasi cemerlang di bidang khusus, atau seorang siswa yang menjadi juara, adalah sesuatu yang membahagiakan dan membanggakan. Kebanggaan itu sendiri merupakan respons instinktif , meski kemudian menjadi sesuatu yang dipelajari secara kognitif. Kebanggan tersebut, apapun alasannya, namun demikia  merupakan sesuatu yang perlu dihargai, sehingga Bobbie DePrter menasihatkan agar kita merayakannya dan memberikan kepada pembelajarn yang berhasil suatu perngharaan baik berupa ucapan selamat atau hadiah yang bersifat material.

  1. TEORI PEMBELAJARAN

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk memahami dan menyusun teori pembelajaran yang lebih efektif  bagi para pelajar. Pembelajaran secara hafalan memerlukan daya ingatan yang kuat, tetapi hal tersebut tidak dapat membentuk manusia yang kritis dan kreatif malah hal tersebut tidak sesuai di zaman yang serba modern ini. Tuhan telah karuniakan kepada manusia satu set pancaindera. Mata adalah merupakan salah satu pancaindera yang amat penting bagi seseorang manusia. Sebagai contoh, mata yang berfungsi untuk melihat, maka akan merangsang tindakan seseorang apabila melihat sesuatu yang dapat memberi sesuatu makna kepada dirinya.

Seorang anak yang masih kecil dan belum mengenal huruf dapat memahami sesuatu keadaan melalui penglihatan dan pemerhatian. Objek yang dilihat melalui mata akan menghasilkan sesuatu pesan melalui interpretasi yang dibuat di dalam otak. Pesan yang dihasilkan akan menjadi mudah dan jelas ketika kita dapat merangsang pancaindera dengan cepat. Oleh itu dalam proses pembelajaran seseorang itu perlulah menyusun strategi agar segala isi pelajaran yang diperoleh dapat diproses oleh otak dengan lebih mudah. Beberapa elemen yang dapat merangsangkan fungsi otak dan memudahkan pemahaman kita adalah seperti berikut:

    1. Teks. Teks yang ringkas dan mudah difahami serta ukurannya yang tidak begitu kecil dapat menghindarkan  mata kita terasa lelah dan seterusnya mengelakkan diri seseorang itu berasa bosan untuk membacanya.
    2. Grafik. Bahan grafik seperti garisan anak panah, segi empat dan bulatan dapat digunakan untuk membentuk jaringan bagi memudahkan pemahaman bagi setiap topik.
    3. Gambar. Gambar-gambar yang dilukis untuk melambangkan sesuatu isi pada teks dapat menjelaskan lagi pemahaman serta mengukuhkan daya ingatan dengan cara mencerdaskan daya gambaran mental yang ada pada setiap individu.

Komposisi panca inera itu sendiri memberikan sebuah model pembelajaran. Setiap manusia memiliki dari karunia Tuhan mereka masing-masing dua mata, dua telinga, dua telapak tangan, dua lubang hidung, dan hanya mempunyai satu buah mulut saja. Komposisi panca indera tersebut dapat menginspirasi bahwa manusia baru akan dapat mengutarakan pandangannya dengan akurat jika sudah dua kali melihat, dua kali mendengar, dua kali menerap aroma, dan dua kali meraba untuk keperluan satu kali pengutaraan pandangannya. Proses penafsiran oleh manusia setelah melihat dan mendengar, mencerap serta meraba tersebut juga menunjukkan bahwa realitas yang dapat diamati oleh manusia memiliki dimensi atau sosok bentuk yang terpadu dari bentuk visual, terkstur, warna, aroma dan juga potensi menghasilkan gelombang audial jika dikenakan padanya sesuatu yanga lain dengan tingkat kekerasan dan gaya yang tertentu.

Komposisi panca indera juga memberikan panduan model pembelajaran bahwa hanya orang yang pernah dapat melihat yang akan dapat menulis atau menggambar, serta hanya orang yang pernah mendengar yang akan dapat mengucapkan sesuatu kosa kata tertentu. Tidak mungkin seorang yang selama hidupnya belum pernah mendengar sebuah kosa kata dari suatu bahasa, kemudian dapat mengucapkannya, dan tidak mungkin seorang yang sejak terlahir ke dunia dalam keadaan tuli akan dapat berbicara. Orang menjadi bisu dengan demikian, adalah karena sepanjang hidupnya sejak lahir tidak pernah mengalami mendengar sesuatu baik karena telinga yang dimilikinya tidak dapat berfungsi, atau memang tidak memiliki telinga, atau memiliki telinga dan berfungsi tetapi terisolasi dari segala kemungkinan untuk mendengar.

Dari dalam kerangka berfikir aksiomatis ini, dapat ditarik sebuah pemikiran teoretik bahwa pembelajaran tentang segala-sesuatu yang harus menghasilkan kemampuan mengucapkan suatu bunyi dan atau kosa kata adalah melalui prosedur mendengar, sedang pembelajaran sesuatu untuk menghasilkan kemampuan menulis dan atau menggambar atau melukis adalah dengan melihat. Berdasarkan kerangka berfikir teoretis seperti inilah maka kemudian untuk mengkomunikasikan sesuatu melalui dokumen bagi orang buta atau tuna netra dibuatlah huruf Brile, karena seorang yang tuna netra hanya akan dapat memahani simbol dan atau penanda dalam dimensi kontur. Ragam konturlah yang membeda suatu pertanda misalnya huruf a sampai dengan z, dan segala implikasi pemanfaatannya dalam prosedur komunikasi mempergunakan media dokumentatif.

Demikian pun kerangka pemikiran teoretik mengenai pembelajaran sesuatu bagi seorang yang bisu. Bahasa isyarat dalam bentuk segala penanda yang dapat dilihat dengan segala implikasi pemanfatannya dalam penyimbolan huruf a sampai dengan z dan bahkan simbolisasi kata perkata dengan mempergunakan simbol visual adalah lazim dalam hal ini. Sedangkan bagi seorang berpanca indera normal, maka simbolisasi dilakukan dengan audiovisual sekaligus, dan oleh karena manusia berpancaa indera normal merupakan kebanyakan dari keseluruhan manusia, maka system simbol yang telah mapan (fullflagged) pun seakan bukan merupakan sesuatu yang dibuat berdasarkan alasan-alasan argumentatif sebagaimana pembuatan bahasa dan tulisan brile dan bahasa isyarat untuk tuna rungu.

Semua system simbol dan pola pembelajaran yang mempergunakan system symbol tersebut dibangun di dalam kerangka mendukung untuk mempermudah proses pembelajaran, dengan hasil suatu model dan pola pembelajaran yang dapat diulang di waktu dan di tempat yang berbeda-beda dengan hasil yang relatif secara umum “sama.” Hasil dari penggunaan model dan pola pembelajaran tersebut tentu saja adalah perubahan pada system nalar, sistem interpersonal respons traint, dan system keperilakuan manusia. Perubahan-perubahan bentuk dan kecenderungan bernalar, bersikap, dan bertindak yang memungkinkan manusia pemnelajar akan memperoleh alternatif perilaku yang lebih efektif dan efisien adalah tujuan dari pembelajaran tersebut. Penciptaan kedua model dan pola pembelajaran tersebut di muka tentu saja merupakan sebuah terobosan yang didasarkan kepada pemetaan nalar pembelajar, dan kencenderungan-kecende-rungannya.

Teori pemetaan nalar dalam hal ini merupakan penggunaan peta nalar dan pengelolaan grafik adalah sesuai ke arah memudahkan pembacaan serta memudahkan otak membuat analisis untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna. Dalam memahami peta nalar atau pengelolaan grafik, beberapa langkah perlu dibuat agar hal tersebut dilakukan secara sistematik:

    1. Memahami isi petikan. Sekiranya sesuatu ilustrasi peta nalar itu hendak dibuat berdasarkan pada bahan bacaan, maka bahan bacaan itu perlulah dibaca dan difahami secara keseluruhan terlebih dahulu.
    2. Mengidentifikasi isi dan uraian yang berkaitan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menonjolkan  uraian-uraian yang dianggap ada kaitan dan relevan dengan topik bahan bacaan tersebut.
    3. Menghafal simbol. Gagasan yang utama akan berawal pada satu titik permulaan dan hal tersebut disimbolkan dengan satu lingkaran. Dari sinilah gagasan ini akan berkembang. Berbagai cara dapat dilakukan untuk pengembangan gagasan ini. Melalui pengalaman yang telah kita alami, pemetaan nalar ini lebih sesuai dibuat dalam bentuk pengelolaan grafik dan jaringan klasifikasi. Oleh itu penggunaan beberapa simbol berserta dengan warna-warna tertentu dapat digunakan sebagai satu teknik memetakan nalar kita ke arah memudahkan pemahaman.
    4. Melukis gambar. Gambar merupakan salah satu media yang dapat memberi rangsangan yang begitu cepat daripada teks. Gambar juga dapat memberi berbagai penafsiran yang dapat mencetuskan pemikiran yang lebih kritis dan kreatif.

 

Proses membuat peta nalar dapat memberi faedah yang bukan saja dapat dilihat pada luarnya tetapi juga sesuatu yang tersirat di sebaliknya:

    1. Latihan dalam kelompok. Peta nalar dapat dibuat dan dilakukan melalui satu kelompok. Ini dapat menggalakkan pelajar-pelajar belajar secara kaloboratif dan koperatif.
    2. Pencetusan gagasan. Ilustrasi yang dibuat yang mencakup teks, grafik dan gambar dapat meningkatkan kreativitas seseorang individu ke arah pencetusan gagasan.
    3. Perkembangan potensi. Ilustrasi grafik dan gambar dapat memperkembangkan potensi kemampuan kita yang dibaca terlebih dahulu perlu di level motorik yang ada pada pelajar-pelajar.
  1. Kepandaian Latihan jenis ini amat diperlukan untuk keperluan pembentukan sikap yang analitis. Penganalisisan data melalui pemetaan nalar ini adalah merupakan salah satu ciri-ciri kegiatan yang terdapat dalam pembelajaran sekolah unggulan. Oleh itu guru seharusnya memahirkan diri serta berusaha memperkenalkan kegiatan ini kepada pelajar-pelajarnya mulai sekarang.

 

Menurut Dilip Mukerjea (1996) dalam bukunya berjudul “Superbrain”, melalui pemetaan nalar seseorang itu dapat… “learn MORE, remember MORE, use LESS paper, invest LESS effort…” yang membawa maknanya penggunaan peta nalar dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih banyak, meningkatkan daya ingatan tanpa merugikan terlalu banyak kertas serta tenaga.

 

 

Daftar Pustaka

Muhammad Fu’ad Abdul Baaqy, 1992. Al-Mu’jaam almufahrasy lialfaadzil Qur’aan, Lebanon, Dar-alfikr
Hill, Winfred F. Edisi ke 5. Terjemahan M. Khozim.  2010. THEORIES OF LEARNING (Teori-Teori Pembelajaran). Bandung. Nusa Media
Dryden, Gordon & Vos, Jeannette, terjemahan word ++ translation service. 2000. Revolusi Cara Belajar, Bandung, Mizan Media Utama.
Arends, Richard I. Terjemahan Helly Prajitno Soetjipto & Sri Mulyantini Soetjipto. 2008. Learning To Teach. Belajar untuk Mengajar.Yogyakarta. Pustaka Pelajar
ePrter, Bobbie & Hernacki, Mike. 2000. Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. . Terjemahan Alwiyah Abdurrahman. Bandung. Kaifa-Mizan Media Utama group

 

[1] Pembelajaran ini diperintahkan Allah SWT dalam surah al-Hasy 59: 2.

[2] Lihat Surah al-Hasyr 59, ayat 1-5.

[3] Diadopsi dari Wikipedia edisi 10 November 2014

[4] Diadopsi dari Wikipedia edisi 10 November 2014

[5] Diadopsi dari Wikipedia, edisi 24 Mei 2014

[i][i] Wikipedia edisi 25 Februari 2014

Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *