Ma’had ‘Aly adalah program pendidikan kader ulama yang terintegrasi dengan pendidikan tinggi. Program ini merupakan kelas khusus yang diperuntukan bagi mahasiswa yang mengambil Program Studi Al-Ahwal Al-Syahsiyah (AS). Program Ma’had Aly ini didesain untuk menyiapkan sarjana berkualifikasi ulama-teknopreneur.

Satu di antara pekerjaan rumah lembaga pendidikan tinggi Islam, khususnya di Jawa Barat adalah bagaimana melahirkan atau mencetak sarjana-sarjana yang berkualifikasi ulama-techno-preneur atau lengkapnya ulama-tekno-sosial-enterpreneur. Dalam perspektif isu-isu keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan global, kehadiran para ulama tekno-sosial-enterpreneurial ini sangat dibutuhkan. Bukan sekedar berkait dengan fenomena kekurangan atau “kemiskinan” ulama, tetapi juga menyangkut tuntutan dalam menjawab tantangan masyarakat baru, yakni apa yang dikenal dengan masyarakat resiko (risk society) abad ke-21.

Sejumlah isu keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan global, seperti isu substansialiasi agama, peningkatan daya saing umat dan pembangunan masyarakat ilmu misalnya, jelas membutuhan kehadiran sarjana-sarjana yang bukan hanya menguasai teori-teori keilmuan tertentu, melainkan diperlukan para sarjana yang berkualifikasi ulama dan tekno-sosial-enterpreneur. Alim dan fasih dalam berbicara agama (faqih), sekaligus memiliki keterampilan dalam mengatur, mengelola dan menjadi problem soulver resiko-resiko sosial masyarakat dengan berbasis inovasi teknologi. Begitu juga dengan isu-isu tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), pemanfaatan bonus demografis, serta isu perubahan iklim dan etika global. Semua itu, merupakan tantangan baru yang membutuhkan manusia-manusia unggul dan tercerahkan. Dalam kerangka ini, sekali lagi, kehadiran para sarjana plus ulama-tekno-sosial-enterpreneur, menjadi kebutuhan yang utama. Kehadiran para sarjana plus ulama-tekno-sosial-enterpreneur ini sangat dibutuhkan, terlebih sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan transformasi (percepatan ke arah kemajuan) dan dinamisasi gerakan pencerahan (Islam) di Jawa Barat, serta optimalisasi peran strategis dalam praksis keumatan, kebangsaan dan dinamika global.

Kehadiran sarjana yang memiliki kualifikasi ulama-tekno-sosial-enterpreneur tersebut, tentu tidak tercipta dengan tiba-tiba. Sebaliknya, akan memerlukan sistem pembinaan dan kaderisasi yang serius, tertata sistemik dan terukur. Dalam hal ini, STAI Muhammadiyah Bandung memandang penting untuk menyelenggarakan pendidikan kader ulama yang terintegrasi dengan pendidikan tinggi. Sebagai wujud kongkritnya, STAI Muhammadiyah Bandung bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah menyelenggaraan program pendidikan kader ulama, Ma’had Aly.

Pendidikan merupakan industri mulia (noble industry) yang memiliki peran kompleks. Bukan sekedar mengemban misi untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan semata, melainkan juga mengemban misi pembebasan (emansipatory mission), kemanusiaan (humanity mission), spiritualitas (spirituality mission), kewargaan (citizenship mission)dan misi peradaban (civilization mission). Menurut Shipman, dalam masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern seperti masyarakat Indonesia, pendidikan memiliki tiga peran penting, yaitu sebagai lembaga sosialisasi (socialization), pembelajaran (schooling)dan pendidikan (education).[1]Sebagai lembaga socialization, pendidikan mengemban misi untuk mengintegrasikan worldview (pandangan dunia) dan fundamental values (nilai-nilai dasar) para pembelajarnya kepada pandangan dunia dan nilai-nilaidasar kelompok atau nasional dominan (public mainstream). Dalam hal ini adalah pandangan dunia dan nilai-nilai dasar keindonesiaan, seperti menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai kemuliaan martabat manusia, persatuan dalam kemajemukan, demokrasi dan keadilan sosial.

Sebagai lembaga schooling, pendidikan mengemban misi mulia untuk mempersiapkan mereka dalam mencapai dan menduduki posisi sosial-ekonomi tertentu. Oleh karena itu, lembaga pendidikan dituntut untuk mengembangkan pembelajaran yang dapat membekali para pembelajarnya dengan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan dan profesi atau mengembangkan keahlian (skill) mereka, baik human skill, conceptual skill, maupun technical skill yang memungkinkan mereka mampu memainkan peran sosial-ekonominya dalam masyarakat. Sementara sebagai lembaga education, pendidikan mengemban misi untuk mencetak kelompok-kelompok elit dalam masyarakat yang akan berperan penting dalam mempercepat transformasi sosial dan memberikan arah bagi dinamisasi program pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam kerangka Shipman di atas, keberadaan Universitas Muhammadiyah Bandung memiliki spirit yang sama dengan penekanan pada misi yang ketiga (sebagai lembaga education), yaitu mencetak kelompok elit—dalam hal ini sarjana yang berkarakter dan berkemajuan—yang akan berperan penting dalam mempercepat transformasi sosial dan memberikan arah bagi dinamisasi program pembangunan yang berkelanjutan menuju Indonesia yang berkemajuan. Dalam pencapaian ke arah itu,UM Bandung berusaha menyiapkan mereka dengan worldview dan fundamental values yang kokoh sebagai peneguhan karakternya,[2] serta membekali mereka dengan keahlian-keahlian yang memadai, baik human skill, conceptual skill, maupun technical skill yang memungkinkan mereka mampu memainkan perannya sebagai kelompok elit dalam masyarakat. Sehingga, yang lahir dari rahim UM Bandung itu, bukan sekedar ‘sarjana biasa’, melainkan sarjana yang benar-benar memiliki karakter dan berkemajuan sebagai agen sekaligus pengawal perubahan.

Misi pendidikan sebagai lembaga education (mencetak kelompok elit) di atas sangat krusial, terutama bila dihadapkan pada tantangan masyarakat abad ke-21 yang begitu kompleks, saling kait mengait, cepat berubah dan terkadang penuh paraadoks. Para futuris menyebut setidaknya ada 15 (lima belas) tantangan kemanuasiaan global abad ke-21, yaitu:

Pertama, masalah pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim (sustainable development and climate change). Kedua, masalah air bersih (clean water). Ketiga, masalah populasi penduduk dan sumberdaya alam (population and resources). Keempat, masalah demokratisasi (democratization). Kelima, masalah perspektif jangka panjang (long-term perspective). Keenam, masalah konvergensi global atas teknologi informasi (global convergence of IT). Ketujuh, kesenjangan kaya-miskin (rich-poor gap). Kedelapan, isu kesehatan (health issues). Kesembilan, kapasitas untuk mengambil keputusan (capasity to decide).Kesepuluh, masalah perdamaian dan konflik (peace and conflict). Kesebelas, masalah status perempuan (status of women). Keduabelas, masalah kejahatan transnasional (transnational organized crime). Ketigabelas, masalah energi (energy). Keempatbelas, masalah sains dan teknologi (scence and technology). Kelimabelas, masalah etika global (global ethics).

Tantangan masyarakat abad ke-21 di atas, jelas menuntut peran penting lembaga pendidikan sebagai noble industry yang memiliki misi peradaban. Dalam hal ini, STAI Muhammadiyah Bandung sebagai lembaga pendidikan, dituntut secara serius untuk mencetak kelompok-kelompok elit itu. Yaitu, manusia-manusia unggulan yang berkarakter dan berkemajuan. Dalam spektrum kebangsaan yang lebih spesifik, kelompok-kelompok elit ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan budaya literasi bangsa sehingga memiliki kompetensi (kemahiran) abad ke-21 yang memadai, yaitu kemahiran critical tinking and problem soulving, communication and collaboration, technology literacy, serta yang tidak boleh diabaikan adalah authentic self-knowledge. Dengan begitu, UM Bandung diharapkan tidak sekedar menjadi lembaga pendidikan yang hanya memerankan misinya sebagai agent of scientific and technology development dalam mengkomunikasikan berbagai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, tapi juga mengemban misi mulia sebagai agent of cultural development dalam membangun bangsa yang berkarakter dan berkemajuan.

Semua itu, jelas menuntut UM Bandung untuk terus berbenah dalam mengembangkan kapasitas sumberdaya manusia, menata manajemen organisasi kelembagaan dan keuangan, serta melengkapi berbagai fasilitas yang mendukung sistem pembelajarannya. Ini penting agar misi mulia pendidikan di atas dapat berjalan secara efektif, efesien dan produktif. Dalam kerangka ini, satu hal yang sangat fundamental adalah UM Bandung sebagai lembaga pendidikan dituntut untuk mengembangkan sistem akademik yang jelas, sistematis dan terukur (sesuai dengan standar nasional). Berdasarkan pemikiran ini, maka penyusunan dan penerbitan Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Bandung menjadi sangat signifikan.

Ma’had Aly adalah program pendidikan kader ulama yang terintegrasi dengan pendidikan tinggi. Program ini merupakan kelas khusus yang diperuntukan bagi mahasiswa yang mengambil Program Studi Al-Ahwal Al-Syahsiyah (AS). Program Ma’had Aly ini didesain untuk menyiapkan sarjana berkualifikasi ulama-teknopreneur.

Satu di antara pekerjaan rumah lembaga pendidikan tinggi Islam, khususnya di Jawa Barat adalah bagaimana melahirkan atau mencetak sarjana-sarjana yang berkualifikasi ulama-techno-preneur atau lengkapnya ulama-tekno-sosial-enterpreneur. Dalam perspektif isu-isu keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan global, kehadiran para ulama tekno-sosial-enterpreneurial ini sangat dibutuhkan. Bukan sekedar berkait dengan fenomena “kemiskinan ulama”, tetapi juga menyangkut tuntutan dalam menjawab tantangan masyarakat baru, yakni apa yang dikenal dengan masyarakat resiko (risk society) abad ke-21.

Sejumlah isu keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan global, seperti isu substansialiasi agama, peningkatan daya saing umat dan pembangunan masyarakat ilmu misalnya, jelas membutuhan kehadiran sarjana-sarjana yang bukan hanya menguasai teori-teori keilmuan tertentu, melainkan diperlukan para sarjana yang berkualifikasi ulama dan tekno-sosial-enterpreneur. Alim dan fasih dalam berbicara agama (faqih), sekaligus memiliki keterampilan dalam mengatur, mengelola dan menjadi problem soulver resiko-resiko sosial masyarakat dengan berbasis inovasi teknologi. Begitu juga dengan isu-isu tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), pemanfaatan bonus demografis, serta isu perubahan iklim dan etika global. Semua itu, merupakan tantangan baru yang membutuhkan manusia-manusia unggul dan tercerahkan. Dalam kerangka ini, sekali lagi, kehadiran para sarjana plus ulama-tekno-sosial-enterpreneur, menjadi kebutuhan yang utama. Kehadiran para sarjana plus ulama-tekno-sosial-enterpreneur ini sangat dibutuhkan, terlebih sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan transformasi (percepatan ke arah kemajuan) dan dinamisasi gerakan pencerahan (Islam) di Jawa Barat, serta optimalisasi peran strategis dalam praksis keumatan, kebangsaan dan dinamika global.

Kehadiran sarjana yang memiliki kualifikasi ulama-tekno-sosial-enterpreneur tersebut, tentu tidak tercipta dengan tiba-tiba. Sebaliknya, akan memerlukan sistem pembinaan dan kaderisasi yang serius, tertata sistemik dan terukur. Dalam hal ini, Universitas Muhammadiyah Bandung memandang penting untuk menyelenggarakan pendidikan kader ulama yang terintegrasi dengan pendidikan tinggi. Sebagai wujud kongkritnya, Universitas Muhammadiyah Bandung bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah menyelenggaraan program pendidikan kader ulama, Ma’had Aly.


[1]Azyumardi Azra, “Pembaruan Pendidikan Islam: Sebuah Pengantar”, dalam Marwan Sardjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Amissco, 1996), 3.

[2]Worldview dan fundamental values STAI Muhammadiyah Bandung akan dijelaskan pada bagian tersendiri.