STAI Muhammadiyah Bandung
20 Maret 2019

Oleh : Arif Noer

Bersyukur sya bisa menghadiri lagi kegiatan kajian bersama para intelektual Muhammadiyah Jawa Barat dlm kegiatan FGD di STAIM Bandung.

pada diskusi kali ini menarik ketika memperhatikan kisah pa Solihin yg berkerja keras membangun ranting Muhammadiyah di Garut dalam keterbatasan pengetahuan beliau tentang Muhammadiyah itu sendiri.

Juga hadir cucu pendiri ranting sumbersari yg menceritakan bagaimana ranting disana dibangun melalui gerakan kemanusiaan, yg juga kental dengan gaya Nahdiyin.

Kedua mujahid ranting Muhammadiyah ini ditanggapi oleh Dr. Norman (ketua LPCR Pusat) dengan apresiasi atas gerakan dakwah nya, hanya ketua LPCR ini mengingatkan kembali akan peran fungsi cabang dan ranting sebagaimana yg tercantum dlm AD/ART Muhammadiyah, bahwa cabang dan ranting seharusnya jadi ujung tombak dakwah Muhammadiyah, yg berarti keputusan muktamar diturunkan ke wilayah, daerah kemudian di eksekusi di cabang dan ranting.

Maka menurut Dr. Norman, PCM dan PRM ini menjadi posisi paling berat dlm mengemban amanah bermuhammadiyah, karena harus konsisten sbg juru dakwah, sebagai etalase yg menjadi wajah Muhammadiyah.

Dalam ADM Pasal 15 ayat (1) berbunyi Pimpinan Ranting memimpin Muhammadiyah dalam Rantingnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan di atasnya.

Inilah yg menarik bagi penulis, yg mana gerakan mujahid kita di ranting bila dilihat perjuangannya, tidak sesuai dengan apa yg tercantum dlm AD/ART, mereka berjuang bukan atas rencana strategi yg diturunkan dari atasnya, bahkan mereka berjuang dg tidak tahu apa itu Muhammadiyah, seperti yg dialami pa Solihin.

Kondisi ini menunjukan bahwa ranting pada akhirnya bekerja sendiri bukan atas Renstra dari pimpinan atasnya, maka kondisi inilah yg pada akhirnya oleh ketua LPCR disebut sebagai ujung tombok bukan ujung tombak.

Lalu bagaimana dengan cabang dan ranting yang lain?

Apakah sama seperti dua ranting di atas, penulis kira kondisinya bahkan lebih menghawatirkan, bukan hanya sebagai ujung tombok yg bergerak sendiri, malah sebagian banyak yg mati suri, hidup tak mau matipun enggan.

Yg paling menakutkan adalah ketika kita menengok pada Ortom khususnya AMM, bahkan ranting bisa hanya sebagai komoditas (politik) untuk kepentingan permusyawaratan saja.

dalam FGD ini harusnya jadi renungan kita semua, bila situasi ini masih berlanjut, maka kebesaran jaringan Muhammadiyah pada dasarnya adalah kamuflase belaka, hanya besar dlm dokumen tapi dlm kenyataan adalah buih-buih kecil yg berserakan yg menjadikan organisasi ini tdk memiliki kekuatan/pengaruh berarti di masyarakat Jawa Barat ini.

Untuk itu perlu dikembangkan kembali Tajdid Gerakan agar gerakan Muhammadiyah kembali menjadi gerakan Organisasi Dakwah Islam yg kuat, besar terorganisir.

Tajdid gerakan bisa dimulai dengan penguatan Mujadalah terhadap sistem keorganisasian dan Gerakan Dakwah sebagaimana disampaikan oleh H. Dikdik Dahlan yg juga sebagai narasumber pada kesempatan itu.

Pada akhirnya kita berharap, dimasa depan tumbuh dlm tubuh Muhammadiyah jabar sebagian kelompok yg menyeru dan berjuang terus untuk menjaga gerakan Muhammadiyah menjadi gerakan dakwah yg besar terorganisir, sehingga Muhammadiyah di Jabar menjadi organisasi yg menjadi pencerah bagi seluruh organisasi dakwah, bukan sekedar pengikut apalagi ekor bagi sebagian kepentingan lain.

Wallahu a’lam bisshowab

Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *