Oleh Neisa Hadhnah Rahayu A.

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah syurga, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman. Itulah sepenggal bait lagu kolam susu yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Lagu ini dibuat pada tahun 1973. Bukan terinspirasi dari kekayaan alam Indonesia, melainkan kritik halus kepada pemerintah agar tulus menjaga segenap tumpah darah Indonesia.
Lagu ini menggambarkan betapa kaya sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, Sri Mulyani mengatakan bahwa seluruh total aset yang dimiliki Indonesia pada tahun 2017 adalah sebesar Rp. 5.456 triliun. Tentu nilai yang cukup fantastis, untuk menyelesaikan berbagai masalah negeri ini, mengentaskan kemiskinan salah satunya.
Negeri ini sungguh kaya, seperti apa yang digambarkan oleh Koes Plus, karena Tuhan menciptakan Indonesia dalam keadaan tersenyum, begitu ungkapan ketakjuban Brouwer terhadap Indonesia terutama bumi pasundan. Tetapi, sepertinya prediksi malaikat tentang kerusakan yang akan diperbuat manusia jauh lebih tepat untuk Indonesia hari ini, 25.95 juta rakyat Indonesia hidup dalam garis kemiskinan. Belum lagi soal Freeport yang menguras habis kekayaan negeri ini, dilegitimasi pula dengan PP No. 1 Tahun 2017, memberikan celah untuk para wakil setan dalam mengeruk habis aset negeri ini.
Melihat negeri Indonesia hari ini, membawa kita pada garis waktu yang telah Mesir lalui lebih dulu, Hassan Fahty menggambarkan kehancuran Mesir setelah hadirnya kekuasaan uang, industri, keserakahan dan snobisme. Hal serupa terjadi pula di negeri bumi pertiwi ini, setelah invansi dana investasi para penguasa mengontrol utuh kebijakan para pemangkunya.
Indonesia menjadi negeri subur makmur loh jinawi, tetapi bukan untuk penduduk pribumi, melainkan untuk mereka yang tidak pernah mengalir didarahnya kecintaan terhadap negeri ini, selain kecintaan terhadap kekuasaan dan kekayaan. Negeri ini sungguh telah kehilangan para wakilnya. Mereka cenderung berganti baju dengan modernisme dan kapitalisme.
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kepada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sederet bait-bait tujuan negara yang sudah ditinggalkan bak puisi usang dalam kurun waktu beribu tahun. Mimpi beribu masa, Indonesia, negara merdeka dan rakyat sejahtera, hanya isapan jempol belaka.
Indonesia negeri makmur, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, menjadi mimpi beribu masa. Bayang-bayang kemerdekaan semu serta kesejahteraan ragu yang dijanjikan para pemangku dungu kian terlihat pasti. Tentu hal ini bukan tanpa sebab, beragam faktor menjadi penyebabnya, mulai dari krisis nilai hingga moral, mulai dari mencukupi hingga akhirnya melampaui, mulai dari kehampaan hingga melewati batas kontrol.
Sungguh negeri ini sedang dilanda berbagai krisis, jati diri bangsa yang mulai luntur, keilmuan yang tidak diimbangi praktik, lebih dari itu campur tangan pihak lain kian memperkeruh suasana. Tidak cukupkah rakyat terpaksa mengakhiri hidup hanya karena masalah ekonomi ? tak cukupkah ribuan anak meninggal hanya karena kelalayan janji-janji mu ? Merasa negeri ini tidak memiliki masalah apapun ? Tentu karena tidak ada masalah berarti bagi mereka.
Ada banyak hal yang harus segera kita lakukan, untuk membuat negeri ini benar-benar hidup. Bergerak dan melawan ketidakadilan, mengembalikan tujuan negara yang telah diformulasikan oleh para pendahulu dan membangun semangat perlawanan melawan penjajah hari ini. Sungguh Indonesia merdeka dan rakyat sejahtera masih jadi mimpi beribu masa. Benar apa yang dikatakan Karl Wolfeskhl bahwa “Und ob ihr tausend Worte habt, Dan Wort, das Wort ist tot”.
Untuk mewujudkan mimpi beribu masa, setidaknya perlu berbagai pergerakan progresif, baik dari pemerintahan maupun rakyatnya. Kita patut belajar banyak dari negara adidaya dunia, mereka memiliki sistem ekonomi dan kekuatan militer yang superior hingga dunia menatap segan pada mereka. Kemandirian tersebut telah dibuktikan oleh Singapura dan China. Mereka mampu mengontrol bahkan mematikan lawan-lawan tangguh dalam arena ekonomi tentu didukung penuh oleh kekuatan militer yang mereka miliki. Singapura tidak pernah mendapatkan intervensi dari pihak manapun soal kebijakan negaranya. Begitupun China, tertutup rapat soal urusan negaranya. Bahkan rakyatnya sendiri pun buta informasi terhadap dunia luar. Turki pun menjadi bagian negara Islam yang disegani karena memiliki kemapanan ekonomi serta militer, terutama pada masa Sultan Mehmed II.
Dan untuk mewujudkan mimpi beribu masa : Indonesia bangsa merdeka dan sejahtera, tidak akan pernah terlepas dari dua kekuatan tersebut. Militer dan ekonomi menjadi langkah awal dari pembangunan massa yang akan bergerilya untuk memerdekan dirinya. Kemandirian dibidang militer hanya bisa dibangun dengan kemandirian ekonomi. Kemandirian keduanya bisa dimiliki manakala tingkat moralitas pejabat dan bangsanya ada pada batas kemanusiaan, terlebih jika mampu melampauinya.
Kenyataaanya, sungguh sangat mengerikan, sebagaimana yang dikatakam oleh mentri pertahanan Indonesia, jikalau hari ini Indonesia harus berperang, maka hanya akan sanggup bertahan dalam dua hari. Tidak menyedihkan bagaimana bangsa ini, kekayaan sumber daya alam dan manusia tidak mampu menopang kebutuhan primer dari bangsanya. Tujuan negara dimaknai sebagai rangkaian kata tanpa pendalaman utuh secara ideologis dan historis.
Bangsa ini masih terpenjara dengan segudang harapan semu dari para pemangku kekuasaan, terlebih tahun ini adalah tahun politik, yang seringkali membuat bangsa ini lupa akan tajamnya sejarah, terlena dengan gagasan kosong yang dirangkai penuh dengan kata indah dan intonasi yang berirama khas. Kita boleh saja percaya bahwa yang dijanjikan bukanlah serta merta omong kosong, melainkan visi dan misi yang sedang mereka gagas. Tentu, hal tersebut tetap boleh dipraktikan selama validitas data dan rekam jejak tidak dipengaruhi dogma dan keberpihakan. Bangsa ini sungguh sangat layak untuk memerdekakan dirinya. Bangsa ini sungguh sangat layak untuk sejahtera. Tentu, dalam memperkukuh keinginan dan harapan tersebut harus ada kebulatan tekad dari seluruh bangsa ini.
Untuk mewujudkan mimpi beribu masa, perlu persiapan luar biasa, tentu untuk menghidari bergama kemungkinan buruk yang akan terjadi dalam pergolakan politik dan gerakan. Pemerintah dan rakyat wajib bekerja sama dalam satu arahan dan gerak langkah dengan spirit yang sama. Kepentingan selain kebaikan untuk segenap bangsa Indonesia menjadi terlarang. Sebab hal inilah yang membuat banyak orang tidak sadar bahwa dirinyalah yang menghambat kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa ini.
Supremasi hukum menjadi bagaian pertama yang harus dibenahi, tentu rakyat akan sangat berbahagia jika keadilan ditegakkan sesuai asas kemanusiaan dan kesetaraan. Hal ini yang akan menghilangkan miss trust diantara pemerintah dan rakyat. Terciptanya sistem hukum yang baik akan berbuah pada good governance dan terbangunnya kepercayaan satu sama lain.
Good governance hanya bisa dibangun dengan memenuhi kriteria inti, yakni orientasi ideal negara serta berfungsinya pemerintahan secara ideal. PP No.101Tahun 2000 menjabarkan bahwa prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektifitas, supremasi hukum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat tercermin dalam pemerintahan yang baik.
Dalam mewujudkan good governance, terdapat berbagai prinsip yang harus dijalankan, sebagaimana yang ditawarkan UNDP, setidaknya terdapat sepuluh prinsip yang harus dimiliki. Pertama partisipation, masyarakat dilibahtkan secara aktif dalam proses penurunan kebijakan, memiliki kekebasan untuk mengkritisi dan menngajukan opsi dan bentuk kebebasan konstruktif lainnya yang mendukung kearah kerjasama antar pemerintah dan rakyat.
Kedua rule of law, aturan hukum yang didambakan adalah yang mengetengahkan prinsip keadilan, kesetaraan dan menyeleluruh (wholness). Sehingga kesetaraan dalam prosesi peradilan dapat dijalankan tanpa pertimbangan lain yang melibatkan jabatan, wewenang dan harta.
Ketiga Transparency, transparansi menjadi bagian penting dari aliran informasi pemerintahan sehingga masyarakat bisa mengakses dan memberikan evaluasi serta mentoring dari berbagai kebijakan.
Keempat Responsiveness, daya tanggap yang dimiliki oleh pemerintahan haruslah memiliki ketepatan dan kecepatan. Respon cepat menjadi solusi dari beragam kebijakan yang terbengkalai, stakeholders memeliki kewenangan untuk mengarahkan seluruh institusi untuk mrlakukan hal yang sama.
Kelima Consensus orientation, kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah merupakan bentuk kesepakatan dari rakyat. Dan posisi utama yang pemerintah mainkan adalah penyambung lidah rakyat yang diekpresikan dalam program.
Keenam Equality, keadilan menjadi bagian yang penting dimiliki oleh seluruh perangkat pemerintahan, karena hal ini akan sangat berpengaruh pada keberpihakan yang dijalankan. Keadilan menjadi bagian penting dalam konsep pemerintahan seperti yang ditawarkan oleh Aristoteles bahwa keberpihakan pada kaum yang tertindas adalah keadilan.
Ketujuh Effectiveness and efficience, efektif dan efisien menjadi perangkat penting dalam pelaksanaan program yang telah dirancang. Hal ini mesti dilakukan untuk menghindari pemborosan dan tumpang tindih wewenang didalam berbagai institusi.
Kedelapan Accoutability, pertanggung jawaban terhadap masyarakat luas menjadi bagian penting dalam menjaga integritas dan kepercayaan antara pemerintah dan rakyatnya. Tentu dilakukan dengan berbagai pertimbangan dan regulasi, hingga melahirkan putusan.
Kesembilan Strategic vision, keluasan wawasan dan wewenang para pemangku jabatan akan melahirkan berbagai rancangan program yang startegis untuk memberdayakan potensi sumber daya alam dan manusia, dengan melihat struktur sosial budaya dan sejarah. Mampu melihat segala kemungkinan yang terjadi, baik peluang baik maupun ancama yang begitu berbahaya bagi bangsanya. Pikiran jauh kedepan menurunkan aksi yang begitu bijaksana.
Kesepuluh Interrelated, saling keterkaitan menjadi bagian penyempurna dari terbentuknya pemerintahan yang baik untuk mewujudkan mimpi beribu masa Indonesia. Karena yang berperan bukan saja pemerintah melainkan bersama rakyat bergerak beriringan, saling menguatkan dan mempercayai, sampai pada titik yang tidak pernah dibayangkan.
Terjalinnya kepercayaan yang baik, menjadi modal awal untuk menyatukan gerakan dan langkah membangun Indonesia kedepan. Kebijakan atas dasar keadilan dan kesetaraan menjadi bukti dan langkah nyata untuk memerdekakan bangsa ini dari segala macam bentuk penindasan dan penjajahan. Pembenahan ekonomi menjadi bagian penting selanjutnya, tentu hal ini hanya bisa bergulir apabila point pertama terbangun dengan baik. Penguasaan sumber daya alam dan pemberdayaan rakyat sipil menjadi kunci dari pembenahan sumber pendapatan negara kita. Nilai investasi bangsa lain tidak akan pernah mampu menyentuh kebijakan dan arah pergerakan politik bangsa ini. Tentu karena kemerdekaan dan pendapatan negara yang besar sehingga tidak membuat kita banyak berhutang pada negara lain.
Tentu hal tersebut dapat dilakukan, ketika sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mengelola kekayaan bangsanya didasari nilai luhur patriotisme. Bonus demografis yang dimiliki Indonesia menjadi peluang nyata untuk mewujudkan kemerdekaan finasial. Terlepas dari beragam pemikiran akan kualitas pemikirannya. Hal ini tentu menjadi aset bagi negara kita. Penguatan ideologi kebangsaan dan pembekaan berbagai skill menjadi tanggungjawab bersama pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia.
Peguasaan networking menjadi kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap warga negara untuk mampu menerima data valid dan terbebas dari hoax yang menyebabkan beragam konflik. Hal ini menjadi tindakan preventif terjadinya miss trust antara rakyat sipil dan pemerintah, selain untuk memperkuat kekuasaan di dunia lepas.
Hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh masyarakat berperadaban (tamadhun), seperti yang telah direpresentasikan oleh masyarikat madinah sebagaimana yang ditawarkan oleh Ibnu Khaldun “konsep madinah al-fadhilah”. Untuk membangun masayarakat yang berkeadaban dalam mewujudkan mimpi beribu masa tentu harus memiliki karakteristik sebagai berikut; pertama memiliki spirit pluralisme, hal ini menjadi bagian penting dari masyarakat, karena Indonesia memiliki beragam kekayaan budaya, bahasa dan agama. Persatuan dan kesepahaman akan lahir dengan sangat indah. Kedua, memiliki sikap toleransi yang tinggi, karena perbedaan sangat mungkin sekali untuk menghadirkan konflik, saling pengertian dan menerima perbedaan menjadi solusi dari perbedaan. Dan ketiga adalah tetapnya bepegang teguh pada moralitas yang dapat menyemai nilai transenden.
Tentu Indonesia hanya akan memiliki beribu masa untuk mewujud mimpi, tanpa adanya aksi nyata yang dibangun dari kesadaran dan kecintaan terhadap negara kesatuan Indonesia. Kerjasama dan kebersamaan menjadi kunci awal untuk mewujudkan mimpi beribu masa. Kepercayaan yang mesti dibangun dengan pondasi keimanan pada Tuhan yang maha Esa.

Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *