Oleh Hendriana

Aktifis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

 

Mahabbah merupakan kebutuhan psikologis manusia, dalam perjalanan hidup manusia tidak terlepas darinya, denganya manusia merasakan keindahan hidup, getaran-getaran hidupnya menjadi sebuah langkah yang positif, mengalahkan segala ketidakmungkinan dalam hidupnya. Hubungan positif dengan positif maka akan menghasilkan sesuatu yang positif pula, sebagaimana rumus dalam matematika (Positif X Positif = Positif). Tentunya dengan metode Watauwa Shoubil Haq, sehingga menguatkan kecintaan terhadap Tuhannya. Keindahan yang tampak dalam makhluk-Nya, menyadarkan bahwa keindahan yang hakiki dari dan hanya milik Tuhannya.

Dari kesadaran itulah, menuntut keselarasan untuk mengikuti segala yang dititah oleh Tuhannya, seseorang yang telah dirasuki rasa cinta, apapun yang diinginkan oleh yang dicintainya, akan dipenuhi dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Bahkan harta dan nyawa taruhannyapun, tidak menjadi persoalan baginya, asalkan kekasih senang dengan apa yang disuguhkannya. Jika kecintaannya tidak dibuktikan, maka hanya akan seperti Cinta settingan yang ada diinfotaiment, bukanlah cinta hakiki yang dirasaka keduanya. Ulama Sufi berkata : seorang guru sufi terbang di udara, berjalan di atas laut atau memakan api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardhu atau Sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah dari Tuhannya.

Allah Subhanahu Wataala berfirman dalam Surat Ali Imran : 31  yang artinya “Jika kalian (benar – benar) mencintai  Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian”. Ayat tersebut menurut al-Hassan Ra turun ketika beberapa kaum bersumpahsetia di hadapan Rasulullah “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sangat mencitai Tuhan”. Dari asbabun nuzul ayat tersebut, al-Ghazali melihat bahwa kecintaan terhadap Tuhan dapat diwujudkan dengan ketaatan, ketaatan menjadi sebuah bukti kecintaan Hamba terhadap Tuhannya. Sedangkan bukti kecintaan Tuhan terhadap mahluk-Nya, diwujudkan dalam bentuk ampunan yang tiada tara bagi hamba-Nya.

Cinta palsu tidak akan berbekas serta tidak memiliki kekuatan apapun yang dihasilkan darinya, tiupan angin dari kipas anginpun akan menggoyahkan cinta yang demikian, apalagi dihadapkan dengan angin di sore hari dengan tiupan yang dapat menerbangkan layang-layang, maka akan porak poranda, tanpa terlihat bekas apapun. Di akhirat kelak, ketika Tuhan memerintahkan Iqra Kitabaka! Hanya lembaran kertas kosong tanpa ada coretan apapun, ketika itu, yang ada hanya penyesalan yang sedalam-dalamnya.

Maka Kecintaan terhadap sesama yang benilai positif harus melahirkan kecintaan kepada Tuhan, Kecintaan kepada Tuhan dapat diwujudkan dengan bentuk yang dicintai oleh Tuhan, membangun kedekatan dalam sujud, membangun rasa dalam dzikir, serta bertindak dengan ketetapan-Nya. Ampunan yang tiada tara bagi Hamba-Nya pun akan mengalir, sebagai bentuk kecintaan terhadap Hamba-Nya. Sehingga ridho-Nya dengan mudah kita dapatkan, yang dapat kita jadikan sebagai tiket meraih nikmat yang tak terhitung dan keabadian di akhirat kelak.

Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *