Perumusan Kembali Arsitektur Pendidikan Agama Islam

Oleh  Hj. Mukhlishah binti Agus Hakim, 

Dosen STAI Muhammadiyah Bandung

Tahun 2017

Abstrak:. Studi Literatur, Bertolak dari senjang antara Tujuan dan sasaran dengan evaluasi hasil keluaran Pendidikan Agama Islam; ditengarai adanya masalah arsitektural dalam Konstruksi Pendidikan Agama Islam yang mengemuka dalam modul pembelajaran. Dikaji secara kritis dengan teknik dekonstruksi dan rekonstruksi, rujuk kepada penafsiran berbasis tipe ideal, dan disimpulkan bahwa perlu perumusan kembali ARSITEKTUR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM dengan sekurangkurangnya merumuskannya menjadi PENDIDIKAN BERAGAMA ISLAM.

  1. Latar Belakang Studi

Program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dirancang dan ditujukan untuk mencetak sarjana (S1) dengan gelar S.Pd. (Sarjana Pendidikan, dengan spesifikasi Pendidikan Agama Islam). Kurikulum program studi ini mengarah kepada terselenggaranya proses pembelajaran yang berorietasi pada terciptanya mahasiswa sebagai insan pembelajar yang paripurna secara integratif antara agama, pendidikan, dan teknologi pendidikan profetik [Nur Uhbiyati, 25:29; Ahmad Tafsir, 21:34]. Program studi ini oleh karenanya, seyogyanya merupakan penghasil sarjana pendidikan yang siap menjadi guru Pendidikan Agama Islam berkualifikasi sebagai model kepribadian beragama Islam bagi para murid atau peserta didiknya.

Permasalahannya adalah, sebagian besar sekolah menengah di Indonesia dalam menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam lebih terorientasi kepada pembelajaran Pelajaran Agama Islam, dan bukan pembelajaran dan pendidikan beragama Islam. Hal ini mengemuka dalam bentuk wujud kurikulum dan pola serta arah pembelajaran yang tercermin pada model dan substansi evaluasi hasil belajar yang lebih mengedepankan uji kemampuan kognitif semata [Nana Sujana, 2OO2:111; Wina Sanjaya, H, 2OO6:72]. Evaluasi hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam model ini dengan demikian niscaya bahkan hanya akan mencakup uji kemampuan nalar hafalan siswa terhadap pengetahuan kognitif tentang Agama Islam, dan bukan kapasitas, kapabilitas dan integritas dalam beragama Islam.

Masalah dalam Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah kemudian adalah, bahwa kesenjangan antara kemampuan kognitif siswa dalam Pendidikan Agama Islam dengan sikap dan perilaku beragama Islam para siswa tersebut relatif menganga. Sikap dan perilaku siswa yang memiliki angka kelulusan mata pelajaran Agama Islam sangat memuaskan bukan saja belum tentu akan cenderung lebih baik sikap dan perilaku beragamanya, melainkan juga boleh jadi cenderung memiliki sikap dan perilaku yang berbanding terbalik dengan nilai akademik  Pendidikan Agama Islam mereka [Rohmat Mulyana, 2OO4:159; Winkel ,WS, 1987:314]. Perilaku  berbahasa dalam pergaulan keseharian serta kebiasaan rutin lainnya di sekitar sekolah maupun keluarga dapat menjadi sebagian contohnya. Rumusan Arsitektur Pendidikan Agama Islam yang belum mendorong kepada terlaksananya model pendidikan beragama Islam dalam hal ini dapat ditengarai sebagai berpotensi menjadi sumber masalah dalam Pendidikan Agama Islam.

Rumusan Arsitektur Pendidikan Agma Islam ini bersifat sentral dan menentukan mengingat baik buruknya sesuatu bergantung pada baik buruknya rumusan arsitekturnya. Rumusanaan arsitektur akan merupakan suatu rancangan konseptual yang mencakup Kerangka, Fungsi dan Metode. Rancangan Pendidikan Agama Islam dalam bentuknya rumusan arsitektur Pendidikan Agama Islam dengan demikian akan mencakup Kerangka, Fungsi, dan Metode Pendidikan Agama Islam. Kerangka, fungsi, dan metode yang baik belum menjamin hasil Pendidikan Agama Islam yang baik, terkecuali jika diimplementasikan dengan baik dengan prasarana yang memadai dan oleh orang yang memadai. Namun Kerangka, Fungsi dan Metode Pendidikan Agama Islam yang buruk akan dengan sendirinya merupakan perancangan keburukan bagi Pendidikan Agama Islam [Ahmad Tafsir, 2OO2: 9].

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana rumusan arsitektur Pendidikan Agama Islam yang ada di sekolah menengah jika dilihat dari tampilan yang tercermin dari uji hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang ada saat ini.
  3. Apa implikasi metodologis dari rumusan Arsitektur Pendidikan Agama Islam yang ada tersebut terhadap keluaran Pendidikan Agama Islam
  4. Solusi alternatif seperti apa yang mungkin disediakan untuk menangulangi keadaan jangka pendek dan menengah sambil mempersiapkan solusi jangka panjang terhadap masalah rumusan Arsitektur Pendidikan Agama Islam.

 

  1. Tujuan dan Sasaran
  2. Tujuan

Kajian ini ditujukan untuk menemukan gambaran utuh menyeluruh masalah kesenjangan antara konsep Pendidikan Agama Islam dengan hasil atau keluaran Pendidikan Agama Islam yang sudah dan sedang berjalan di kebanyakan sekolah mengah di Indonesia.

  1. Sasaran
    • Diperolehnya Rumusan Arsitektur Pendidikan Agama Islam yang ada di sekolah menengah yang dapat didekonstruksi dan untuk direkonstruksi sesuai dengan prinsip-prinsip fundamental pendidikan.
    • Terrumuskannya kembali Arsitektur Pendidikan Agama Islam yang ada tersebut  menjadi Rumusan Arsitektur Pendidikan Agama Islam  yang lebih sesuai dengan princip fundamental pendidikan terutama Pendidikan Agama Islam.
    • Terrumuskannya solusi alternatif yang mungkin disediakan untuk menanggulangi keadaan jangka pendek dan menengah sambil mempersiapkan solusi jangka panjang terhadap Masalah Pendidikan Agama Islam.

 

  1. Manfaat Studi
  2. Manfaat akademis

Menyediakan  model konseptual rumusan arsitektur Pendidikan Agama Islam yang dapat dijadikan (sekurang-kurangnya) pijakan kajian lanjutan yang lebih mendalam mengenai rumusan arsitektur Pendidikan Agama Islam yang lebih sesuai degan prinsip-prinsip pendidikan dan selaras dengan type ideal Tujuan dan Sasaran Pendidikan Agama Islam Indonesia.

  1. Manfaat Praktis

Menyediakan rekomendasi akademik yang dapat menjadi acuan perencanaan, perancangan dan tindakan  manajerial penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam yang lebih sesuai dengan prinsip, tujuan, dan sasaran Pendidikan Agama Islam Indonesia.

 

  1. Tinjauan Pustaka

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”[1]. Pendidikan, namun demikian, sering difahami oleh kebanyakan awam dengan perspektif terbatas sebagai suatu yang identik dengan sekolah , pemberian pelajaran, melatih anak dan sejenisnya.

Pendidikan, terlebih Pendidikan Agama Islam namun demikian, menyangkut dan mencakup berbagai segi yang sangat luas, termasuk semua prosedur  yang melibatkan peserta didik ke dalam pengalaman untuk pembetukan dan pematangan pribadinya, baik yang dilakukan oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Pendidikan Agama Islam dalam hal ini merupakan pendidikan yang didasarkan atas dan diarahkan pada nilai-nilai dari dalam ajaran Islam dalam dimensi nalar, sikap dan periaku sekaligus [Zuhairini, 1983: 21]. Pendidikan Agama Islam dengan rujuk pada Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah : ” upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Ahmad Tafsir, dalam hal ini mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran Islam ( knowing ), terampil melakukan atau mempraktekkan ajaran Islam ( doing ), dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari ( being ) [Ahmad Tafsir, 2OO2:5].

Pendidikan Agama Islam secara konseptual dengan demikian merupakan pendidikan yang ditujukan kepada menjadikan peserta didik dapat meningkatkan kemampuan nalar kognitifnya, sikap afektifnya, praktik pengalaman agama secara normatifnya, dan perilaku responsif antar pribadinya di dalam keluarga, masyarakat dan di dalam bingkai kebangsaan. Hasil keluaran Pendidikan Agama Islam dalam hal ini mencakup terbentuknya perilaku beragama yang didasarkan pada sikap beragama dan merujuk kepada pengetahuan Agama Islam secara utuh menyeluruh. Pendidikan Agama Islam oleh karenanya dapat diasumsikan secara konseptual sebagai Pendidikan Beragama Islam yang ditandai oleh kecukupan nalar beragama Islam, Kecukupan pemahaman terhadap Ajaran Agama Islam, konsistensi sikap, serta keterampilan mempraktekkan dan meningkatkan pengamalan ajaran Islam itu dalam kehidupan sehari-hari baik dalan kehidupan personal maupun sosial. Tujuan utama Pendidikan Agama Islam dengan demikian adalah keberagamaan, yaitu menjadikan peserta didik seorang Muslim dengan kualitas keberagamaan yang penuh kesungguhan dalam pengamalan ajaran agama dalam kehidupan nyata yang didasari oleh keimanan yang kuat dan pengetahuan yang memadai.

Pendidikan Agama Islam dengan demikian merupakan proses yang berlangsung seumur hidup, di dalam lingkungan keluarga , sekolah dan lingkungan masyarakat. Pelaksanaan Pendidikan ber-Agama Islam oleh karena itu memerlukan  suatu pengetahuan dan metode  yang sesuai sehingga setiap guru Pendidikan Agama Islam mampu menciptakan suatu situasi yang dapat memudahkan tercapainya tujuannya. Metode yang sesuai dengan tujuan Pendidikan Agama Islam dimaksudkan kepada suatu metode yang memenuhi unsur-unsur prinsipil dari pendidikan. Unsur-unsur prinsipil pendidikan sekurng-kurangnya dapat terdiri dari:

  1. Pendidikan merupakan reaksi atas kesadaran bahwa peradaban Ummat Manusia itu bersifat rawan hancur dan lenyap dan Pendidikanlah yang memeliharanya.
  2. Pendidikan itu untuk semua mansia
  3. Pendidikan tidaklah bersifat utilitarian, melainkan harus emansipatif
  4. Pendidikan itu tidak bersifat alamiah sehingga tidak mudah
  5. Masa lampau adalah cermin dan pelajaran terbaik untuk kita
  6. Guru yang efektif hendaknya menguasai dengan baik dasar-dasar pengetahuan yang menjadi issue subjektif pelajarannya
  7. Guru itu dituntut menjadi seorang pemikir yang reflektif dan sekaligus seorang praktisi yang peduli di dalam lingkungan pendidikan yang sesungguhnya.
  8. Guru hendaknya memiliki kepribadian menarik, menjadi pemandu arah belajar dan hidup penuh pengharapan bagi muridnya.
  9. Guru hendaknya merupakan pemimpin komunitas yang dengan persiapan yang memadai membuat murid melibatkan diri ke dalam aktifitas berpembelajaran
  10. Guru yang efektif hendaklah secara kritis peduli dan memikirkan masalah moral, politik, sosial, ekonomi dalam kaitan dengan pendidikan
  11. Guru hendaknya tidak menempatkan diri sebagaimana seorang teknisi atau surveyor, melainkan harus peduli dan menaruh perhatian serius terhadap pertumbuhan dan pengembangan professional, personal, dan intelektual dirinya sesuai tantangan yang berkembang di sekelilingnya.

Kerangka berfikir tentang rumusan arsitektur Pendidikan Agama Islam, dengan merujuk kepada paparan teoretik dalam ulasan literatur di muka oleh karenanya dapat dirangkum dalam sketsa skematik sebagai berikut:

 

  1. Metode Kajian
  2. Subjek kajian

Subjek kajian ini adalah Rumusan Arsitektur Pendidikan Agama Islam pada kebanyakan Sekolah Menengah di Indonesia .

  1. Fokus dan Lokus
    • Fokus

Fokus (Objek Formal ) Kajian ini adalah Rumusan Arsitektur Pendidikan Agama Islam yang tercermin pada soal uji hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebagaimana tertera pada Modul Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Sekolah Menengah

  • Lokus

Lokus Kajian ini dapat dipaparkan berturut-turut sebagai berikut:

  1. Rumusan Arsitektur Pendidikan Agama Islam merujuk kepada rumusan yang menggambarkan Pendidikan Agama Islam yang kerangkanya, fungsinya, dan metodenya seperti apa yang  hendak  dikonstruksi sebagai pewujudan amanah Sistem Pendidikan Nasional.
  2. Pendidikan Agama Islam merujuk kepada pendidikan yang dimaksudkan untuk menjadikan peserta didik mengetahui, memahami, menginsyafi, dan meyakini serta dengan integritas personal dan sosialnya konsisten mengamalkan keyakinan beragama Islam.
  3. Modul Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merujuk kepada modul pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk Sekolah Menengah Atas kelas X semester 2 terbitan Viva Pakarindo Klaten Jawa Tengah yang dipergunakan di SMA PGII Bandung.

 

  1. Strategi Kajian

Kajian ini memilih strategi kritik teks dengan pertimbangan pentingnya kepastian ketersediaan dan validitas data sekaligus. Data kajian diambil dari sumber skunder dan dibahas dengan strategi dekonstruksi –rekonstruksi berparadigma kritis untuk menghasilkan sebuah konstruksi tahap akhir yang sesuai dengan tujuan dan sasaran kajian. Konstruksi kritis merujuk kep