Oleh Hendriana 

Mahasiswa Jurusan Ahwalu Syakhsiyah 

STAI Muhammadiyah Bandung

Kebutuhan spiritual sebagian manusia semakin hari, semakin tidak diperhatikan. Seiring kemajuan zaman, nampaknya lupa dengan hakikat dia diciptakan, Prof Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya Lentera Kehidupan menjelaskan bahwa manusia adalah hewan duadimensi yang memiliki dua bagian yaitu jiwa dan fisik, terkadang kebutuhan fisik yang menjadi prioritas pemenuhan kebutuhan, sehingga sebagian manusia lupa dengan kebutuhan lainnya yaitu kebutuhan jiwa. Hal ini dapat kita lihat dari gaya manusia dalam menjalankan hidupnya yang cenderung memasuki dunia yang baru, dunia baru tersebut seolah menggiring kepada yang bersifat keduniawiyan.

Budaya hedonism dan sejenisnya menjadi fenomena hari ini, seolah ada unsur yang menggiring sebagian manusia untuk masuk kedalam budaya tersebut, budaya yang melupakan hakikat ia diciptakan, sehingga Emha Ainun Nadjib memandang manusia seperti itu, sampai matinya tidak akan pernah tahu hakikat manusia hidup, pertanyaan – pertanyaan dasar yang seharusnya ditanyakan pada diri sendiri, seperti  dimana ujung kehidupan yang ia akan tempuh ? untuk apa dia menjalankan kehidupan? nampaknya disepelekan, sehingga mengeksplorasi alam tanpa batas, acuh terhadap apa yang terjadi dengan orang lain, dan dalam pikirannya bagaimana kehidupan yang ia jalankan dipenuhi dengan kesenangan semata.

Apabila kita lihat lebih jauh, hal ini terjadi disebabkan lemahnya sebagian manusia menggunakan potensinya, sebagai makhluk spiritual, menurut Prof Mulyadhi Kartanegara menjelaskan bahwa daya –daya  spiritual ini, terkadang cenderung tidak sejalan dengan kecenderungan fisik, serta memiliki hukum yang tidak sama dengan hukum fisik, bahkan daya tersebut bisa melawan kecenderungan fisik, jelas dari paparan tersebut bahwa daya spiritual diatas daya fisik. Namun kecenderungan tersebut akan sirna manakala unsur – unsur eksternal tidak pernah mendukung daya spiritual.

Dakwahlah yang kemudian masuk sebagai pengaruh dari luar untuk memaksimalkan daya spiritual yang dimiliki oleh manusia, menurut Fazlur Rahman bahwa dakwahlah yang seharusnya menjadi peubah social yang tadinya buruk menjadi baik, namun dakwah terkadang menjadi membosankan saat penyampaiannya monotone, tidak pernah masuk segmen yang didakwahi, bahkan ada yang menggunakan jalan – jalan yang terkadang tidak indah dilihat oleh mata manusia yang melihatnya. Lantas bagaimana agar dakwah menjadi menarik bagi sebagian manusia?.

Dr. Haedar Nashir membagi dakwah kedalam dua tipe, yang pertama dakwah lil mu’aradah, dakwah ini menggunakan cara –cara keras, dengan langsung mengintrogasi,mencela, ataupun dengan cara lainnya yang tidak indah dilihat mata kepada objek dakwahnya, sehingga ia ketakutan dan menjauh terhadap kehidupan spiritual, dan kebutuhan jiwa ataupun spiritualnya tidak terpenuhi. Yang kedua, dakwah lil muajahah, dakwah ini dilakukan dengan cara menghadirkan kegembiraan,kesopanan,ketertiban dalam berdakwah kepada objek dakwahnya, sehingga yang objek dakwah merasakan ketenangan dalam menjalankan kehidupan serta memaksimalkan daya spiritual dapat dimaksimalkan.

Dua metode tersebut mengandung kontras satu sama lainnya, namun yang paling terpenting bagaimana seorang dapat terpenuhi kebutuhan spiritualnya, dan al Qur’anpun mengisyaratkan dakwah – dakwah yang menyejukan kepada hati sebagaimana yang tertuang dalam Surat An – Nahl ayat 125 yang artinya, “serulah kepada jalanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”. Dengan ayat tersebut jelas mana yang harus kita pakai dalam menjalankan tugas sebagai sesama muslim untuk saling mengingatkan satu sama lainnya, sehingga budaya – budaya baru yang muncul dapat sedikit terminimalisirkan dengan kemunculan dakwah – dakwah yang menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *