Memahami Munculnya Penafsiran Yang Plural.

Oleh Hendriana

Ahwalu Syakhsiyah STAI Muhammadiyah Bandung.

 

Beberapa hari kebelakang umat Muslim, khususnya di Indonesia, merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Berbagai cara yang dilakukan dalam merayakan hari kelahiran Nabi, ada yang merayakannya dengan membaca dzikir dan berdo’a untuk keselamatan Nabi dan umatnya, ada juga yang merayakannya dengan ngumpul mendengarkan ceramah dan do’a bersama untuk keselamatan negeri. Hal ini menjadi salah satu agenda rutinan bagi sebagian besar umat muslim di Indonesia, namun ada beberapa perdebatan mengenai perayaan hari kelahiran Nabi, ada golongan yang menganggap itu tidak perlu bahkan ada juga yang menganggap hal itu bid’ah karena tidak ada contoh yang dilakukan oleh Nabi sendiri. Selain itu banyak perdebatan –perdebatan tentang masalah ibadah bahkan muamalah sekalipun, dan Indonesia salah satu Negara yang sebagian warganya bermadzhab dan ada pula yang tidak memegang pada satu madzhab, tentu gesekan – gesekan kecil maupun besar akan bermunculan.

Memang apabila kita melihat fenomena perdebatan tentang hal tersebut, maka sebuah hal yang wajar, Dr. Hendar Riyadi dalam buku Fikih Kebhinekaan menggambarkan, bahwa penafsiran terhadap teks, sangat ditentukan dengan latar belakang dan kemampuan sang penafsir, diibaratkan dengan ikan yang diambil dari laut dengan ukuran yang sama dan jenisnyapun sama, namun ketika diolah dengan koki dan cara mengolah yang berbeda maka akan muncul rasa yang berbeda juga,meskipun ikan tersebut diambil dari tempat yang sama, begitupun dengan sumber – sumber primer yang ada di islam, meskipun teksnya sama dari Al qur’an atau sunnah tetapi apabila sudah dibaca oleh penafsir maka akan menimbulkan penafsiran yang berbeda, namun tidak hanya itu, sifat teks yang plural juga mempengaruhi. Abdullah daraz menjelaskan bahwa ketika seseorang membaca satu teks maka akan mendapatkan satu pemahaman tentang teks itu, dan apabila dibaca kembali maka akan muncul pemahaman baru.

Meski demikian kita tetap dituntut untuk menghargai seluruh penafsiran yang dilakukan dengan kaidah – kaidah yang telah ada, dan jangan sekali –sekali mengunci terhadap satu penafsiran karena hal tersebut akan merusak integritas teks dan pembuat teks, sebaimana yang disampaikan oleh Khalid Aboe L Fadl. Perlu kedewasaan dan kebijaksanaan dari kedua pihak tersebut, jangan kemudian disikapi dengan hal- hal yang akan memperkeruh suasana, mengejek atau menghina golongan, apalagi sampai mengkafirkan yang lain misalnya, hal ini yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Surat Al Hujurat : 11, yang artinya “Wahai Orang –orang beriman, janganlah satu kaum mengolok – olok kaum lainnya”.

Dr.Yunahar Ilyas, menjelaskan agar tidak terjadi gesekan – gesekan yang ditimbulkan oleh hal tersebut maka perlunya 3 T untuk mengadapi perbedaan –perbedaan tersebut. Yang pertama Ta’aruf, dalam masyarakat majemuk yang memiliki pemikiran plural maka saling mengenal satu sama lainnya menjadi penting, sehingga apabila terdapat praktik ibadah atau muamalah yang berbeda itu tidak akan kaget, yang kedua Tafa’hum, hal ini penting dilakukan, mengingat memahami satu sama lain mempunyai dalil masing – masing yang ditafsirkan sesuai dengan kaidah – kaidah yang ada, namun tidak cukup dengan dua hal tersebut, butuh juga ta’awun, sikaf saling tolong menolong menjadi solusi terakhir setelah dua solusi tadi. Dan apabila terdapat 10 perkara dan yang berbeda ada 3, maka selesaikan 7 perkara yang sama. Sehingga perbedaan tidak menjadi suatu permasalahan dalam kehidupan internal agama Islam, dan kemajuan peradaban Islam menjadi fokus yang harus diprioritaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *